bytedaily
Kamis, 15 Oktober 2026 - 12:54 WIB

Dampak El Nino Diperkirakan Berlanjut hingga Februari 2027

Redaksi 11 Oktober 2026 11 views
Dampak El Nino Diperkirakan Berlanjut hingga Februari 2027
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, El Nino yang terjadi tahun ini disebut berpotensi menjadi salah satu yang terparah. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), dalam laporan yang dirilis Kamis (8/10), menyatakan fenomena tersebut telah terbentuk kuat dan intensitasnya meningkat pesat. WMO memperkirakan peluang El Nino bertahan hingga Februari 2027 mendekati 100 persen.

Anomali suhu permukaan laut sejauh ini dikaitkan dengan cuaca ekstrem di berbagai wilayah. Di Indonesia, kekeringan turut meningkatkan intensitas kebakaran hutan dan lahan di sejumlah pulau.

Indeks Nino 3.4 tercatat mencapai 2,5 derajat Celsius pada Agustus tahun ini, yang disebut sebagai Agustus terpanas dalam sejarah. Para ahli memperkirakan angkanya dapat terus naik hingga melampaui rata-rata positif 3,0 derajat Celsius dan bertahan sampai tahun depan.

Peneliti Climate Impact Lab di Universitas Chicago memperkirakan Super El Nino tahun ini dapat menyebabkan 451 ribu kematian akibat hari-hari dengan suhu sangat tinggi. Michael Greenstone, pendiri lembaga tersebut, mengatakan ratusan ribu orang berisiko meninggal dalam beberapa bulan mendatang akibat El Nino.

Dalam perkiraan itu, Indonesia mencatat potensi 19.300 kematian dan menempati urutan kedua setelah Nigeria, yang angkanya diperkirakan mencapai 31.400 jiwa. Perhitungan tersebut menggunakan data historis selama beberapa dekade mengenai kaitan suhu dan kematian di tiap wilayah. Estimasi itu mencakup kematian akibat cuaca ekstrem, tetapi tidak memasukkan dampak kematian dari kekeringan, kebakaran hutan, maupun banjir.

Emily Grover-Kopec, Direktur Energy & Climate di Rhodium Group yang terlibat dalam studi, menyebut kelompok lanjut usia dan bayi sebagai kelompok yang paling rentan.

Selain meningkatkan suhu dan risiko panas ekstrem, El Nino juga dapat memengaruhi perekonomian dan ketahanan pangan. Kajian atas El Nino 2015–2016 dan 2023–2024 oleh Guru Besar Perencanaan Wilayah dan Kota ITB Djoko Santoso Abi Suroso serta Manajer Riset dan Proyek Pusat Perubahan Iklim ITB Isnan Fauzi menemukan penurunan produktivitas lahan pertanian yang menekan produksi padi.

Dalam tulisan mereka di The Conversation, kedua peneliti memperingatkan bahwa jika Super El Nino berlangsung hingga awal 2027, jadwal tanam pada musim hujan 2026/2027 berpotensi bergeser. Dampaknya dapat merembet pada jadwal panen, pasokan pangan, dan kenaikan harga, terutama beras.

Penelitian tim dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada bersama Department of Economics College of William and Mary juga mengungkap kaitan peningkatan suhu udara dengan penurunan pendapatan dan produktivitas masyarakat. Peneliti Esa Azali A menyatakan paparan panas dapat menimbulkan tekanan fisik, membuat pekerja memperlambat aktivitas dan lebih sering beristirahat. Suhu tinggi juga dapat mengganggu kemampuan kognitif, memperlambat reaksi, serta mengurangi akurasi kerja.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.