bytedaily - Melansir dari ekonomi.republika.co.id, Presiden Prabowo Subianto telah mengajukan Destry Damayanti sebagai satu-satunya kandidat untuk mengisi posisi Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif. Proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap Destry dijadwalkan akan dilaksanakan oleh Komisi XI DPR RI pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Pencalonan ini dilakukan menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI yang telah diterima secara resmi oleh Presiden Prabowo pada 26 Juli 2026. Setelah pengunduran diri Perry, pemerintah memproses pemberhentiannya secara terhormat dari jabatannya.
Sebelumnya, Perry Warjiyo telah menjabat sebagai Gubernur BI sejak tahun 2018. Setelah pengunduran dirinya, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, ditunjuk sebagai Penjabat (Pjs.) Gubernur BI untuk memastikan kelancaran operasional bank sentral hingga penetapan Gubernur BI definitif.
Kini, Destry berhadapan dengan proses untuk beralih dari status Pjs. menjadi Gubernur BI definitif. Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas, menyatakan keyakinannya terhadap pengalaman dan kapabilitas Destry untuk memimpin bank sentral. Menurut Anwar, rekam jejak Destry di sektor keuangan, perbankan, pasar modal, dan kebijakan moneter merupakan bekal berharga dalam menjalankan tugasnya sebagai Gubernur BI.
Anwar berharap agar Destry, jika terpilih, dapat membangun relasi yang harmonis dan rasional dengan berbagai institusi krusial dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional. Lembaga-lembaga tersebut meliputi Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), yang merupakan bagian dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Selain itu, Anwar menekankan pentingnya koordinasi yang baik dengan pemerintah pusat dan daerah, serta para penyedia jasa pembayaran, baik yang beroperasi sebagai bank maupun lembaga nonbank. "Hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat penting dibangun oleh Destry agar dia sebagai Gubernur BI dapat membuat kebijakan yang dapat diterima dengan baik oleh para pelaku pasar sehingga stabilitas ekonomi dan keuangan serta kesinambungan kebijakan nasional dapat terjaga," ujar Anwar.
Anwar memprediksi tantangan yang akan dihadapi Gubernur BI mendatang sangat berat. Ketidakpastian ekonomi global masih menjadi perhatian utama, dipicu oleh konflik geopolitik, lonjakan harga energi, fluktuasi pasar keuangan internasional, serta tekanan terhadap nilai tukar mata uang.
Di tingkat domestik, Anwar menyoroti tantangan pada kualitas dan pertumbuhan kredit, serta tekanan yang masih dialami daya beli masyarakat dan sektor riil. Oleh karena itu, ia berharap kebijakan BI ke depan dapat menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pemerataan, dan stabilitas.
Lebih lanjut, Anwar meminta Gubernur BI yang baru untuk memperhatikan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan kerentanan sistem keuangan internasional. Perkembangan aset kripto serta tingginya utang pemerintah juga menjadi isu yang perlu dicermati secara seksama. Di sisi lain, transformasi digital dan ekonomi, ekonomi hijau, pembiayaan berkelanjutan, serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga merupakan agenda penting yang perlu menjadi fokus.