bytedaily
Senin, 06 Juli 2026 - 14:03 WIB

Dominasi Premier League di Kompetisi Eropa: Bukti Kekuatan Finansial atau 'Flat-Track Bullies'?

Redaksi 29 Mei 2026 13 views
Dominasi Premier League di Kompetisi Eropa: Bukti Kekuatan Finansial atau 'Flat-Track Bullies'?
Ilustrasi visual (Sumber: bbc.com)

bytedaily - Dilansir dari bbc.com, dominasi klub-klub Liga Primer Inggris di kompetisi Eropa, khususnya Europa League dan Conference League, memunculkan pertanyaan mengenai kekuatan finansial mereka yang jauh melampaui klub-klub lain.

Dalam dua musim terakhir, tercatat 21 pertandingan babak gugur di kedua kompetisi tersebut dimenangkan oleh tim-tim Liga Primer. Dua kekalahan yang dialami pun hanya terjadi saat melawan sesama klub Inggris. Hal ini menimbulkan spekulasi apakah kekuatan finansial Liga Primer kini terlalu besar bagi klub-klub Eropa di luar kelompok elit.

Sejarah sepak bola memang mengenal siklus dominasi liga, seperti Inggris di awal 1980-an, Italia di 1990-an, dan Spanyol di 2010-an. Namun, situasi saat ini terasa berbeda, di mana klub-klub Liga Primer seolah mendapatkan jalur yang lebih mudah menuju babak gugur. Hal ini berbanding terbalik dengan Liga Champions, di mana dominasi klub Inggris tidak sejelas itu.

Muncul anggapan bahwa klub-klub Liga Primer hanya menjadi 'flat-track bullies', yang mampu mengalahkan tim dengan sumber daya lebih sedikit, namun tidak mampu mentransfer kekuatan tersebut ke kesuksesan di Liga Champions. Berbeda dengan saat La Liga mendominasi sepak bola Eropa 15 tahun lalu yang dianggap membentuk gaya permainan, kesuksesan Liga Primer kerap disambut dengan sinisme, mengingat kekayaan besar yang mereka miliki dari kesepakatan siaran televisi.

Pendapatan Liga Primer dari hak siar internasional telah melonjak drastis dalam dekade terakhir, mencapai lebih dari £1,37 miliar per musim. Angka ini bahkan diperkirakan setara dengan gabungan pendapatan empat liga top Eropa lainnya. La Liga sendiri, dengan pendapatan sekitar £780 juta, memegang porsi terbesar dari gabungan tersebut.

Namun, kekayaan finansial tidak sepenuhnya tercermin dalam Deloitte Money League 2026, di mana Real Madrid, Barcelona, Bayern Munich, dan Paris St-Germain menempati empat posisi teratas. Di luar itu, 10 besar didominasi klub Liga Primer seperti Liverpool, Manchester City, Arsenal, Manchester United, dan Tottenham Hotspur. Sebanyak 15 dari 20 klub Liga Primer masuk dalam daftar 30 besar, menunjukkan kesenjangan yang terus melebar dengan liga lain.

Bahkan klub-klub yang secara finansial lebih kecil di Liga Primer, seperti Brighton (peringkat 23), Everton (24), Bournemouth (26), Wolves (29), dan Brentford (30), masih mampu bersaing dalam daftar tersebut. Kesenjangan ini membuat klub-klub dari liga lain semakin sulit untuk bersaing.

Kompetisi Conference League diciptakan untuk memberikan kesempatan lebih banyak tim bermain di Eropa. Namun, UEFA membutuhkan format yang menarik minat siaran, sehingga melibatkan tim-tim dari liga top Eropa. Sayangnya, kekuatan finansial kolektif Liga Primer terlalu besar, bahkan mampu mendominasi pendapatan klub dari liga top lainnya. Crystal Palace, misalnya, memiliki pendapatan £197 juta, hampir empat kali lipat dari Rayo Vallecano (£52 juta), yang mereka kalahkan di final Conference League.

Menurut pakar keuangan sepak bola, Kieran Maguire, klub-klub Championship seperti Leeds, Sheffield United, Burnley, dan Luton bahkan menghasilkan pendapatan lebih besar daripada Rayo Vallecano pada musim 2024-25. "Palace memenangkan Conference League dengan pendapatan yang jauh melebihi klub lain dalam kompetisi tersebut," ungkap Maguire.


Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi bbc.com.