bytedaily - Melansir laporan ekonomi.republika.co.id, ekonom sekaligus Direktur Next Policy Yusuf Wibisono menilai fenomena downgrading menunjukkan masyarakat, terutama kelas menengah, kini lebih mengutamakan fungsi daripada gengsi di tengah gejolak ekonomi.
Yusuf mengatakan, tanda-tanda pelemahan daya beli terlihat dalam beberapa tahun terakhir meski pertumbuhan ekonomi tercatat tinggi. Gejalanya antara lain pusat perbelanjaan yang sepi atau tutup, omzet pasar tradisional yang menurun, serta masyarakat kelas menengah yang menyesuaikan gaya hidup untuk menghemat pengeluaran.
Menurut Yusuf, tekanan daya beli juga dirasakan kelas bawah, tetapi dampaknya lebih banyak terlihat pada kelas menengah. Ia menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi upaya mencapai Indonesia Emas 2045.
Yusuf menyebut jumlah penduduk kelas menengah turun dari 60,8 juta orang atau 23 persen pada 2018 menjadi 46,7 juta orang atau 16,6 persen pada 2025. Pada periode yang sama, porsi kelompok rentan miskin dan calon kelas menengah meningkat dari 68,5 persen menjadi 74,5 persen. Ia menilai menyusutnya kelas menengah dapat melemahkan konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.
Untuk memperkuat kelas menengah, Yusuf mengatakan penciptaan lapangan kerja formal yang berkualitas dalam skala luas diperlukan, bukan hanya stimulus fiskal sementara. Ia mengaitkan turunnya daya beli dengan melemahnya peran sektor formal, termasuk akibat pemutusan hubungan kerja dan pekerjaan dengan upah lebih rendah, seiring deindustrialisasi.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan, downgrading terjadi ketika rumah tangga beralih dari barang bermerek ke produk yang lebih murah, mengurangi frekuensi belanja, atau memilih kemasan berukuran kecil.
Syafruddin menilai persoalannya tidak hanya berkaitan dengan harga barang, tetapi juga terbatasnya sisa pendapatan untuk belanja setelah digunakan memenuhi kebutuhan pokok, perumahan, pendidikan, transportasi, dan cicilan. Ia menyebut inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen.
Menurut Syafruddin, kenaikan harga yang tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan mengurangi kemampuan membeli. Tekanan paling terasa bagi kelompok yang penghasilannya cukup untuk tidak lagi menerima bantuan sosial, tetapi belum memiliki tabungan kuat untuk menghadapi guncangan. Ia juga menyampaikan bahwa sebagian konsumen memang sengaja memilih produk yang lebih efisien.