bytedaily
Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:56 WIB

Ekonom: Kelas Menengah Kini Lebih Mengutamakan Fungsi daripada Gengsi

Redaksi 10 Oktober 2026 9 views
Ekonom: Kelas Menengah Kini Lebih Mengutamakan Fungsi daripada Gengsi
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Direktur Next Policy Yusuf Wibisono menilai fenomena downgrading menunjukkan masyarakat, terutama kelas menengah, semakin mengutamakan fungsi dibandingkan gengsi. Ia mengaitkan perubahan gaya hidup tersebut dengan pelemahan daya beli yang terlihat dari sepinya pusat perbelanjaan, penurunan omzet pasar tradisional, serta upaya sebagian warga menghemat pengeluaran.

Menurut Yusuf, tekanan daya beli juga dirasakan kelas menengah. Ia menyebut kelompok ini menyusut dari 60,8 juta orang atau 23 persen penduduk pada 2018 menjadi 46,7 juta orang atau 16,6 persen pada 2025. Pada periode yang sama, porsi kelompok rentan miskin dan calon kelas menengah meningkat dari 68,5 persen menjadi 74,5 persen.

Yusuf mengatakan kelas menengah yang kuat berperan penting dalam menuju negara berpendapatan tinggi. Pelemahan kelompok tersebut, menurutnya, dapat menekan konsumsi dan pertumbuhan ekonomi. Ia menilai penciptaan lapangan kerja formal yang berkualitas secara luas diperlukan untuk memperkuat kelas menengah, bukan hanya mengandalkan stimulus fiskal sementara.

Ia juga menghubungkan turunnya daya beli dengan melemahnya peran sektor formal, termasuk berkurangnya pekerjaan akibat pemutusan hubungan kerja maupun tersedianya pekerjaan dengan upah lebih rendah. Yusuf turut menyinggung deindustrialisasi dan penurunan kontribusi sektor formal dalam menyediakan lapangan kerja.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan, downgrading dapat terlihat ketika rumah tangga beralih dari barang bermerek ke produk yang lebih murah, mengurangi frekuensi belanja, atau memilih kemasan berukuran kecil. Menurutnya, persoalan tidak hanya berkaitan dengan harga, tetapi juga terbatasnya uang yang tersisa untuk belanja setelah pendapatan digunakan untuk kebutuhan pokok, tempat tinggal, pendidikan, transportasi, dan cicilan.

Syafruddin menyebut inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen. Ia mengatakan kenaikan harga dapat mengurangi kemampuan membeli jika tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan. Tekanan paling terasa, menurutnya, pada kelompok yang sudah tidak menerima bantuan sosial tetapi belum memiliki tabungan kuat untuk menghadapi guncangan. Ia juga menyampaikan bahwa sebagian konsumen memang memilih produk yang lebih efisien.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.