bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, ekonomi Vietnam tumbuh 9,95 persen hingga September 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi laju tercepat sejak pandemi Covid-19. Pada kuartal III 2026, pertumbuhan mencapai 8,81 persen setelah revisi, lebih rendah daripada capaian periode Juli-September.
Menurut laporan Reuters yang dikutip CNNIndonesia, pertumbuhan kuartal III ditopang ekspor yang kuat dan investasi infrastruktur. Meski demikian, laju tersebut masih di bawah target pertumbuhan tahunan Vietnam yang dipatok lebih dari 10 persen.
Vietnam juga menghadapi kenaikan biaya impor sepanjang 2026 akibat perang Iran. Pada September, ekspor barang meningkat 39,1 persen secara tahunan menjadi US$59,48 miliar, sementara impor naik 45,8 persen menjadi US$58,21 miliar. Surplus perdagangan pada bulan itu tercatat US$1,27 miliar.
Selama Januari-September 2026, ekspor tumbuh 24,5 persen menjadi US$434,30 miliar. Impor naik lebih tinggi, yakni 36,7 persen menjadi US$453,72 miliar, sehingga Vietnam mencatat defisit perdagangan US$19,42 miliar—tertinggi yang pernah tercatat.
Kenaikan biaya impor energi turut memperlebar defisit. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, volume impor minyak mentah turun 13,5 persen, tetapi nilainya naik 14,4 persen. Impor bahan bakar olahan bertambah 11,5 persen dari sisi volume dan melonjak 79,3 persen dari sisi nilai.
Kantor Statistik Nasional Vietnam (NSO) melaporkan harga konsumen pada September naik 5,08 persen dibandingkan setahun sebelumnya. Produksi industri pada bulan yang sama meningkat 16,7 persen secara tahunan.
Total investasi selama Januari-September 2026 bertambah 16,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, didorong upaya pemerintah meningkatkan investasi publik di infrastruktur. Sementara itu, arus masuk investasi asing sepanjang 2026 naik 12,1 persen menjadi US$21,1 miliar.
Pekan sebelumnya, Asian Development Bank (ADB) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Vietnam pada 2026 menjadi 7,8 persen dari perkiraan sebelumnya 7,2 persen. ADB menilai prospek jangka pendek tetap kuat berkat ekspansi manufaktur, konsumsi domestik yang tinggi, dan aliran investasi asing langsung.
Untuk jangka panjang, ADB memperkirakan permintaan global yang lebih lemah dan meningkatnya ketidakpastian eksternal berpotensi menekan pertumbuhan. Kenaikan harga energi serta kondisi keuangan global yang lebih ketat juga dapat menambah tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar. Analis senior Asia Verisk Maplecroft, Laura Schwartz, menyampaikan kekhawatiran mengenai kemungkinan ekonomi Vietnam tumbuh terlalu cepat di tengah percepatan inflasi beberapa bulan terakhir.