bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, pengembangan ekosistem bulion dinilai dapat memperluas pemanfaatan emas masyarakat agar masuk ke dalam sistem keuangan dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pengelolaan emas melalui bank emas berpotensi mengubah aset yang sebelumnya bersifat pasif menjadi lebih produktif. Ia menambahkan bahwa hal ini memberikan nilai tambah karena sebelumnya emas tidak terintegrasi dalam aset perbankan.
Menurut Airlangga, bank emas yang telah beroperasi sejak 2025 berhasil mengelola sekitar 153 ton emas dengan nilai mencapai Rp360 triliun atau setara 20 miliar dolar AS. Ia juga menekankan bahwa potensi pengembangan ekosistem bulion di Indonesia masih sangat besar, didukung oleh tingginya minat masyarakat terhadap emas sebagai aset *safe haven*. Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan instrumen investasi berbasis emas seperti *Exchange-Traded Fund* (ETF) untuk memberikan eksposur terhadap emas melalui pasar modal.
Perkembangan ekosistem bulion juga tercermin dari peningkatan jumlah nasabah dan kepemilikan emas masyarakat. Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian per Maret 2026 menunjukkan peningkatan nasabah Lembaga Jasa Keuangan Bullion PT Pegadaian dari 3,2 juta pada Februari 2025 menjadi 5,6 juta pada Februari 2026.