bytedaily - Menurut informasi dari cnnindonesia.com, fenomena El Nino yang menghasilkan cuaca ekstrem dapat menurunkan populasi beberapa satwa, namun sekaligus menciptakan kondisi menguntungkan bagi serangga yang mudah beradaptasi, termasuk nyamuk.
Studi yang dipublikasikan pada tahun 2025 meneliti kasus demam berdarah di Singapura selama lebih dari dua dekade dan menemukan bahwa intensitas El Nino berhubungan dengan peningkatan risiko demam berdarah, dengan memperhitungkan suhu serta curah hujan lokal.
Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura menjelaskan bahwa iklim tropis dan kepadatan penduduk tinggi di negara tersebut menyediakan lingkungan yang ideal bagi nyamuk untuk berkembang sepanjang tahun.
Menurut NEA, suhu yang lebih tinggi dapat mempercepat siklus hidup nyamuk serta mempercepat replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk.
Wakil Direktur Jenderal dan juru bicara Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan (CDC), Tseng Shu‑hui, yang dikutip oleh Taipei News, menambahkan bahwa kenaikan suhu memperpendek siklus hidup nyamuk pembawa virus dan mempercepat proses penggandaan virus dengue di dalam nyamuk.
Setelah hujan lebat atau hujan terus‑menerus, genangan air baik di dalam maupun di luar ruangan menjadi tempat berkembang biak nyamuk yang potensial.
Data pemantauan demam berdarah oleh NEA dari April hingga Juni 2026 mengidentifikasi beberapa lokasi publik, seperti saluran air tertutup, wadah bekas, dan perangkap selokan, sebagai titik konsentrasi utama perkembangbiakan nyamuk.
Proyeksi El Nino tahun ini memperkirakan cuaca yang lebih panas dan kering di Singapura antara Juni hingga Oktober, bertepatan dengan puncak musim demam berdarah yang biasanya terjadi dari Mei hingga Oktober.
Eleanor Slade, Associate Professor di Asian School of the Environment, memperingatkan bahwa El Nino yang semakin kuat dapat memberi tekanan berat pada serangga, menyebabkan kegagalan adaptasi bahkan kepunahan pada spesies yang tidak terbiasa hidup berdekatan dengan manusia.
Ketidakstabilan iklim yang diakibatkan oleh El Nino dapat mengganggu ketersediaan makanan serta siklus hidup tumbuhan dan hewan, berpotensi mengacaukan keseimbangan ekosistem dan rantai makanan di wilayah tersebut.