bytedaily
Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:14 WIB

El Nino Dorong Populasi Nyamuk dan Risiko Demam Berdarah di Singapura

Redaksi 09 September 2026 2 views
El Nino Dorong Populasi Nyamuk dan Risiko Demam Berdarah di Singapura
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, fenomena El Nino tidak hanya mengancam satwa liar secara umum, tetapi juga dapat meningkatkan jumlah nyamuk, terutama di wilayah tropis seperti Singapura.

Nyamuk memang berkembang subur di iklim tropis dan area dengan kepadatan penduduk tinggi, sehingga kondisi tersebut menyediakan lingkungan yang menguntungkan bagi perkembangbiakan mereka sepanjang tahun.

Menurut sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 2025, risiko demam berdarah di Singapura meningkat seiring dengan intensitas El Nino. Penelitian tersebut memperhitungkan suhu serta curah hujan lokal dalam analisisnya.

Wakil Direktur Jenderal dan juru bicara Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan (CDC), Tseng Shu-hui, menjelaskan bahwa suhu yang lebih tinggi dapat memperpendek siklus hidup nyamuk pembawa virus serta mempercepat replikasi virus demam berdarah di dalam tubuh nyamuk.

Setelah hujan lebat atau curah hujan yang terus-menerus, genangan air – baik di dalam maupun di luar ruangan – menjadi tempat berkembang biak nyamuk yang potensial. Data pemantauan demam berdarah oleh Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura dari April hingga Juni 2026 mengidentifikasi beberapa lokasi publik, seperti saluran air tertutup, wadah bekas, dan perangkap selokan, sebagai titik konsentrasi utama.

Prakiraan El Nino tahun ini memperkirakan cuaca yang lebih panas dan kering dari Juni hingga Oktober di Singapura, bertepatan dengan periode puncak demam berdarah yang biasanya terjadi antara Mei hingga Oktober.

Menurut Eleanor Slade, Associate Professor di Asian School of the Environment, peningkatan kekuatan El Nino dapat menimbulkan tekanan pada serangga, menyebabkan beberapa spesies gagal beradaptasi atau bahkan punah. Dampak tersebut berpotensi mengganggu rantai makanan, terutama bagi hewan liar yang tidak terbiasa hidup dekat dengan manusia.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.