bytedaily - Dewan Emas Dunia (World Gold Council) memproyeksikan harga emas akan kembali menunjukkan tren positif pada April 2026, menyusul koreksi tajam sebesar 12 persen yang terjadi pada bulan sebelumnya. Penurunan di Maret 2026, yang mencapai level terendah dalam 13 tahun terakhir menjadi 4.608 dolar AS per troy ons, dipicu oleh aksi jual investor ritel yang masif dan kebutuhan likuiditas mendesak.
Johan Palmberg, Senior Quantitative Analyst World Gold Council, menjelaskan bahwa arus keluar dana dari Exchange Traded Fund (ETF) emas global senilai 12 miliar dolar AS atau setara 84 ton menjadi indikator utama aksi jual tersebut. Tekanan harga juga diperparah oleh spekulasi pasar mengenai potensi penjualan emas oleh bank sentral, menyusul langkah Bank Sentral Republik Turki yang menggunakan sekitar 50 ton emas sebagai agunan.
Meskipun demikian, prospek positif di awal April 2026 didukung oleh pelemahan dolar AS yang gagal menembus rekor tertinggi baru, serta arus masuk ETF emas yang mulai membaik di berbagai kawasan. Permintaan lindung nilai (hedging) dan permintaan fisik dari segmen manajemen kekayaan serta ritel juga mulai terlihat. Namun, risiko geopolitik, terutama potensi kenaikan harga minyak dunia yang berkepanjangan akibat konflik Timur Tengah, masih dapat memicu volatilitas dan kebutuhan likuiditas mendesak yang mempengaruhi pergerakan harga emas dalam jangka pendek.