bytedaily - Melansir dari ekonomi.republika.co.id, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Eniya Listiani Dewi, menekankan bahwa percepatan transisi energi sangat krusial bagi Indonesia untuk mencapai target penurunan emisi karbon. Ia mengingatkan bahwa tanpa langkah konkret dalam lima tahun mendatang, target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia berpotensi hanya menjadi angka tanpa implementasi yang berarti.
Menurut Eniya, komitmen menuju emisi nol bersih atau net zero emission (NZE) harus segera direalisasikan melalui berbagai strategi, terutama di sektor energi yang merupakan salah satu penyumbang emisi terbesar. "Ke depan, komitmen net zero emission harus segera dituntaskan. Karena kalau tidak bergerak dalam lima tahun ini, sebetulnya target NDC kita hanya menjadi angka, jadi tidak berarti ke depannya," ujar Eniya dalam Ministerial Dialogue yang digelar di sela Envirotech, Kamis (11/6/2026).
Dalam target NDC terbarunya, Indonesia menargetkan penurunan emisi sebesar 466 juta ton karbon dioksida (CO2). Eniya menjelaskan bahwa pendekatan NDC selanjutnya tidak hanya berfokus pada persentase penurunan emisi, melainkan memerlukan perubahan sistem energi nasional secara nyata. Sektor Kehutanan dan Penggunaan Lahan Lainnya (FOLU) serta sektor energi diidentifikasi sebagai kontributor emisi terbesar. Puncak emisi diprediksi terjadi pada 2035, dan sektor energi menjadi prioritas utama untuk segera dilakukan penurunan emisi.
Pemerintah telah merancang sejumlah kebijakan untuk mendorong transisi energi, termasuk regulasi sektor energi bersih. Indonesia dinilai memiliki keunggulan karena hampir seluruh sumber energi terbarukan tersedia di dalam negeri, seperti panas bumi, energi laut, angin, tenaga surya, bioenergi, bioetanol, dan biodiesel. Pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) menjadi strategi utama untuk menurunkan emisi sektor energi, dengan target pengurangan emisi sekitar 82,47 juta ton CO2 hingga tahun 2030.
Selain EBT, efisiensi energi juga diidentifikasi sebagai strategi penting kedua. Eniya menyarankan masyarakat untuk menggunakan peralatan listrik hemat energi, seperti perangkat berlabel bintang lima, meskipun harga awalnya mungkin lebih mahal. Ia memperkirakan efisiensi energi dapat berkontribusi pada penurunan emisi sekitar 30 juta ton CO2. Penggunaan lampu LED sebagai pengganti lampu konvensional juga termasuk dalam upaya penghematan energi.
Strategi lainnya meliputi pembangunan pembangkit energi bersih, konversi pembangkit batu bara ke teknologi emisi rendah, serta dorongan penggunaan gas sebagai energi transisi karena memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan batu bara. Kementerian ESDM terus berupaya mengamankan pasokan gas sebagai bagian dari strategi ini.