bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, pengembangan energi baru terbarukan (EBT) perlu didukung kesiapan jaringan transmisi dan distribusi serta teknologi penyimpanan energi. Infrastruktur tersebut dibutuhkan agar tambahan kapasitas pembangkit bisa dimanfaatkan secara optimal dan pasokan listrik nasional tetap andal.
Dewan Penasihat Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Feiral Rizky Batubara, menilai kepemimpinan baru PT PLN (Persero) berpeluang memperkuat sistem kelistrikan nasional untuk mendukung industrialisasi, hilirisasi, dan transisi energi.
Feiral menyebut pergantian Direktur Utama PLN dari Darmawan Prasodjo kepada Suroso Isnandar dapat menjadi kesempatan untuk mengokohkan fondasi kemandirian energi. Menurutnya, tantangan pimpinan baru bukan hanya menambah kapasitas pembangkit, tetapi juga memastikan sistem listrik sanggup menopang kebutuhan pembangunan nasional.
Ia mengapresiasi kontribusi Darmawan selama memimpin PLN. Feiral juga menilai pengalaman Suroso dalam sistem tenaga, manajemen proyek, dan energi terbarukan dapat menjadi bekal menghadapi tantangan sektor ketenagalistrikan. Namun, pengalaman itu perlu diwujudkan melalui kebijakan dan tindakan operasional yang menjaga keandalan pasokan sekaligus mendorong transformasi energi.
Feiral mengingatkan, pengembangan EBT, termasuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), tidak cukup dilakukan dengan menambah kapasitas pembangkit. Produksi PLTS dipengaruhi intensitas matahari dan dapat berubah sepanjang hari, sehingga sistem kelistrikan perlu memiliki fleksibilitas untuk menyeimbangkan pasokan dengan permintaan.
Karena itu, pembangunan PLTS perlu disertai penguatan jaringan transmisi dan distribusi, penyediaan sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS), serta peningkatan fleksibilitas sistem. Kesiapan tersebut juga diperlukan untuk menekan risiko curtailment, yaitu pembatasan produksi ketika sistem tidak mampu menyerap seluruh listrik yang tersedia.
Feiral menilai PLN perlu menyelaraskan perencanaan pembangkit dengan pembangunan jaringan dan fasilitas penyimpanan energi. Dengan demikian, penambahan kapasitas EBT dapat berjalan seiring dengan kemampuan sistem menyalurkan dan mengelola pasokan listrik.
Ia berharap kepemimpinan Suroso Isnandar dapat membangun sistem kelistrikan yang tangguh, efisien, dan adaptif terhadap perubahan kebutuhan energi. Infrastruktur yang memadai diharapkan mendukung transisi energi sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.