bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menyatakan bahwa gempa yang mengguncang Kepulauan Seribu pada Sabtu, 12 September, menghasilkan getaran yang terasa di wilayah luas, namun tidak menimbulkan kerusakan struktural pada bangunan.
Daryono menjelaskan bahwa gempa tersebut termasuk dalam kategori deep focus earthquake, dengan kedalaman sumber lebih dari 300 kilometer, sehingga energi gempa mengalami penurunan signifikan sebelum mencapai permukaan.
Menurutnya, penyebab gempa bukanlah aktivitas sesar dangkal, melainkan patahan batuan pada slab Lempeng Samudra Australia yang menembus jauh ke dalam Laut Jawa (Zona Benioff) pada kedalaman sekitar 358 kilometer, sehingga gempa dikategorikan sebagai intra‑slab event.
Meski episenter berada di Laut Jawa sebelah utara Jakarta, gelombang seismik merambat lebih efisien melalui slab lempeng yang padat ke arah selatan, sehingga getaran dirasakan lebih awal dan lebih kuat di wilayah Jawa bagian selatan, contohnya Sukabumi.
Gempa dengan kedalaman lebih dari 300 kilometer memiliki spektrum guncangan yang luas; getarannya dapat terdeteksi dari Sumatra hingga Jawa bagian timur dan Kalimantan, namun energi yang sampai ke permukaan sudah melemah sehingga dampaknya terhadap bangunan relatif terbatas.
Daryono menambahkan bahwa tipe deep focus seperti ini cenderung jarang menghasilkan gempa susulan karena batuan litosfer samudra pada kedalaman ratusan kilometer bersifat homogen dan pelepasan tegangan biasanya terjadi dalam satu kejadian utama.
BMKG mencatat gempa terjadi sekitar pukul 04.23 WIB dengan magnitudo awal 5,9 pada kedalaman 376 kilometer, dan menyatakan tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Setelah analisis lanjutan, BMKG memperbarui magnitudo menjadi 6,5 dan kedalaman menjadi 368 kilometer, serta mengonfirmasi bahwa getaran terasa dari Kepulauan Seribu hingga Bogor. Tidak lama kemudian, BMKG juga melaporkan gempa di Gunung Kidul, Yogyakarta, dan Nagakeo, Nusa Tenggara Timur.