bytedaily
Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:00 WIB

Genangan Berwarna Kuning di Kawah Gunung Anak Krakatau: Penjelasan Ahli

Redaksi 19 September 2026 14 views
Genangan Berwarna Kuning di Kawah Gunung Anak Krakatau: Penjelasan Ahli
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, muncul sebuah fenomena yang menyerupai telur ceplok di dalam kawah Gunung Anak Krakatau (GAK) di Lampung Selatan setelah erupsi besar pada 3 September 2026 mereda.

Video yang diunggah melalui akun Instagram @wxchasing menampilkan genangan berwarna kuning telur di area kawah, sementara kondisi sekitarnya tampak relatif tenang setelah abu vulkanik yang sebelumnya menyebar ke beberapa provinsi, termasuk Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jakarta, dan Jawa Barat, mulai menghilang.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, menjelaskan bahwa warna kuning tersebut disebabkan oleh air yang tercemar oleh gas belerang. Ia menegaskan, “Itu adalah air di kawah yang terkontaminasi oleh gas belerang,” sebagaimana dikutip oleh detikSumbagsel pada Jumat, 18 September.

Menurut Suwarno, fenomena serupa tidak selalu muncul pada semua gunung berapi. Pada GAK, warna kuning terbentuk karena pencampuran air dengan belerang serta material yang terlepas dari dinding kawah.

Walaupun erupsi utama telah berkurang, aktivitas seismik di GAK belum berakhir. Pada dini hari Jumat, 18 September, tercatat satu gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 12 milimeter dan durasi 5 detik, serta satu gempa tektonik jauh dengan amplitudo 8 milimeter dan durasi 72 detik. Selain itu, microtremor dengan amplitudo antara 0,5‑6 milimeter (dominannya 2 milimeter) juga terdeteksi.

Suwarno menambahkan bahwa status gunung saat ini berada pada Level III (Siaga). Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mendekati area sekitar gunung dalam radius tiga kilometer demi keamanan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.