bytedaily
Jumat, 16 Oktober 2026 - 01:32 WIB

Gletser Swiss Menyusut 19,4 Persen dalam Lima Tahun

Redaksi 05 Oktober 2026 17 views
Gletser Swiss Menyusut 19,4 Persen dalam Lima Tahun
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir cnnindonesia.com, Swiss kehilangan hampir seperlima volume gletsernya dalam lima tahun terakhir akibat krisis iklim. Sejumlah kawasan yang dahulu tertutup es kini berubah menjadi hamparan bebatuan tandus.

Laporan pemantauan tahunan mencatat gletser Swiss menyusut 5,5 persen selama delapan bulan pertama 2026. Penyusutan itu terjadi setelah gelombang panas pada musim panas dan berkurangnya salju pada musim dingin. Jumlah es yang hilang tahun ini hampir menyamai rekor penyusutan pada 2022. Sejak 2021, volume gletser tercatat berkurang 19,4 persen.

Matthias Huss, ahli gletser ETH Zürich sekaligus penulis utama penelitian, mengatakan banyak orang belum menyadari cepatnya gletser menyusut. Ia mengamati beberapa lokasi yang kini tandus sebelumnya tertutup lapisan es setebal ratusan meter. Huss, dikutip The Guardian pada Kamis (1/10), menceritakan kunjungannya ke salah satu lokasi yang dahulu tertutup es tebal dan luas, tetapi kini tampak seperti permukaan Bulan.

Di lokasi tersebut, masih terdapat bongkahan es tua yang tersebar di antara bebatuan panas dan terus mencair. Para peneliti belum merampungkan penghitungan resmi penyusutan gletser tahun ini, tetapi menyebut sejumlah gletser kecil telah menghilang.

Penelitian itu dilakukan bersama Swiss Glacier Monitoring Network dan Swiss Commission for Cryosphere Observation. Hasilnya menunjukkan ketebalan rata-rata gletser berkurang antara 2,5 hingga 4 meter pada tahun ini.

Para peneliti juga semakin sering menemukan gletser runtuh dari bagian dalam. Aliran di bawah es membentuk gua yang kemudian ambruk, sehingga gletser tidak hanya menyusut di permukaan akibat panas Matahari. Huss menggambarkan adanya lubang besar di tengah es dengan atap yang runtuh dan menyebut proses tersebut mempercepat kerusakan serta penyusutan gletser.

Perubahan paling dramatis terjadi di kawasan Alpen. Suhu di Eropa diketahui meningkat dua kali lebih cepat daripada rata-rata global, seiring efek pemerangkapan panas dari polusi bahan bakar fosil dan kerusakan alam.

Penelitian yang diterbitkan MeteoSwiss pada Selasa (29/9) menyebut periode musim panas selama April hingga September menjadi yang terpanas dan terkering sejak pencatatan dimulai pada 1864. Dalam rentang waktu tersebut, aktivitas manusia menghasilkan 1,8 triliun ton emisi karbon dioksida yang menumpuk di atmosfer dan menyebabkan pemanasan planet sekitar 1,4 derajat Celsius.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.