bytedaily
Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:59 WIB

Harga Brent dan WTI Naik Setelah Trump Menolak Proposal Damai Iran

Redaksi 28 September 2026 12 views
Harga Brent dan WTI Naik Setelah Trump Menolak Proposal Damai Iran
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir cnnindonesia.com, harga minyak dunia menguat lebih dari 1 persen pada perdagangan Senin (28/9), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent bertambah US$1,32 atau 1,27 persen menjadi US$105,64 per barel pada pukul 00.36 GMT. Minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 70 sen atau 0,76 persen ke US$93,11 per barel.

Iran mengumumkan proposal perdamaian itu dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada pekan sebelumnya. Iran menyebut proposal tersebut telah disampaikan kepada Amerika Serikat melalui mediator Qatar. Trump mengatakan pada Sabtu (26/9) bahwa ia menolak proposal itu. Namun, dalam wawancara dengan Axios melalui telepon pada Minggu (27/9), ia memperkirakan negosiator AS akan kembali berbicara dengan Iran pekan ini.

Perkembangan tersebut mempertahankan tingginya risiko geopolitik di Timur Tengah dan membuat pasokan minyak regional rentan. Analis ANZ menyatakan risiko masih tinggi karena Houthi dan Iran terus menyerang Arab Saudi. Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman mengatakan pada Sabtu pagi telah mencegat dua rudal balistik dan dua drone yang diluncurkan kelompok Houthi yang didukung Iran menuju Arab Saudi.

Pada pekan sebelumnya, harga Brent naik 0,4 persen. Sebaliknya, WTI turun 7,9 persen di tengah kekhawatiran AS dapat melarang ekspor solar untuk menekan harga yang telah mencapai rekor. Langkah itu berpotensi mengurangi produksi minyak olahan di AS.

ANZ menyebut harga solar AS yang mencapai rekor menambah tekanan pada produk minyak olahan, meningkatkan risiko inflasi, dan kembali memicu pembahasan mengenai kemungkinan pembatasan ekspor. Menurut ANZ, pembatasan ekspor solar AS dapat memperketat pasokan di luar negeri, sementara harga di Eropa merespons kemungkinan berkurangnya pasokan dari AS.

Data awal Kpler yang dirilis pada Senin menunjukkan ekspor minyak mentah dari sejumlah produsen utama Timur Tengah mencapai 12,8 juta barel per hari pada September. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak perang dimulai pada Februari. Pengiriman melalui Selat Hormuz juga pulih, dengan arus minyak diperkirakan sekitar 7,4 juta barel per hari pada bulan itu.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab meningkatkan ekspor minyak pada September. Setelah serangan merusak jaringan pipa East-West, Arab Saudi mengalihkan ekspor dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah ke Ras Tanura di wilayah timur. Pemulihan ekspor produsen utama Timur Tengah berlangsung bersamaan dengan meningkatnya kembali arus pengiriman melalui Selat Hormuz.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.