bytedaily
Kamis, 09 Juli 2026 - 14:27 WIB

Harga Minyak Dunia Meningkat Akibat Eskalasi Konflik di Timur Tengah

Redaksi 09 Juli 2026 3 views
Harga Minyak Dunia Meningkat Akibat Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan setelah militer Amerika Serikat (AS) melakukan serangan baru terhadap Iran pada Rabu (8/7). Peningkatan tensi di kawasan Timur Tengah ini menimbulkan kekhawatiran pasar mengenai potensi terganggunya pasokan minyak, khususnya yang melewati Selat Hormuz.

Menurut data yang dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent tercatat naik menjadi US$79,28 per barel dari penutupan sebelumnya di US$78,02 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga menguat ke angka US$74,76 per barel, naik dari posisi penutupan US$73,52 per barel.

Sebelumnya, kedua jenis minyak acuan tersebut telah ditutup pada level tertinggi dalam lebih dari dua minggu, menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran. Trump juga menyatakan berakhirnya kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik, meskipun ia menegaskan tidak menginginkan perang skala penuh.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah memulai serangan baru ke Iran dengan tujuan utama memastikan kelancaran lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Seorang pejabat AS kepada Reuters memperkirakan operasi militer terbaru ini berskala lebih besar dibandingkan serangan sehari sebelumnya.

Laporan dari media Iran menyebutkan adanya beberapa ledakan di Bandar Abbas, Abu Musa, Bushehr, dan beberapa wilayah lainnya. Serangan ini merupakan kelanjutan dari meningkatnya ketegangan setelah Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Sebagai tanggapan, AS mencabut sejumlah pelonggaran sanksi terhadap penjualan minyak Iran yang sebelumnya disepakati dalam perjanjian sementara. Iran sendiri mengklaim telah menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait, yang kemudian dibalas oleh militer AS.

Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi global yang sangat vital, di mana sekitar seperlima pasokan minyak dunia dikirim melalui perairan tersebut sebelum pecahnya konflik. Penguasaan Iran atas jalur pelayaran ini telah lama menjadi salah satu faktor penekan utama dalam konflik yang dipicu oleh serangan udara AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

Seiring dengan meningkatnya konflik, otoritas maritim telah menaikkan tingkat ancaman bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menjadi kategori 'parah', menyusul insiden penyerangan terhadap dua kapal tanker pada Selasa (7/7).


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.