bytedaily
Jumat, 03 Juli 2026 - 12:20 WIB

Harga Minyak Naik Tipis Jelang Libur Kemerdekaan AS, Pasar Cermati Potensi Perdamaian Iran

Redaksi 03 Juli 2026 1 views
Harga Minyak Naik Tipis Jelang Libur Kemerdekaan AS, Pasar Cermati Potensi Perdamaian Iran
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, harga minyak dunia mengalami kenaikan tipis pada perdagangan Jumat (4/7), bertepatan dengan antisipasi libur panjang Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. Kenaikan ini terjadi di tengah optimisme pasar yang masih dalam tahap kewaspadaan terkait upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah.

Menurut informasi dari cnnindonesia.com, harga minyak mentah Brent tercatat naik 17 sen atau 0,24 persen, mencapai US$72,10 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 14 sen atau 0,20 persen, ditutup pada level US$68,83 per barel.

Aktivitas perdagangan di pasar keuangan Amerika Serikat berlangsung lebih terbatas karena penutupan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan AS yang jatuh pada Sabtu (4/7).

Pada perdagangan sebelumnya, kedua jenis minyak acuan tersebut sempat menyentuh titik terendah sejak sebelum konflik antara AS dan Iran dimulai pada akhir Februari lalu.

Secara mingguan, pergerakan harga minyak menunjukkan volatilitas yang relatif terbatas. Brent melemah 0,02 persen sepanjang pekan, sementara WTI naik tipis 0,12 persen. Pergerakan mingguan ini merupakan yang terkecil dalam beberapa bulan terakhir.

Analis Kepala Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menyatakan bahwa pelaku pasar masih menyimpan harapan terhadap kelanjutan proses perdamaian, meskipun bukti nyata di lapangan belum terlihat secara signifikan. "Ini adalah optimisme yang tetap berhati-hati. Pasar ingin percaya bahwa upaya perdamaian akan bertahan, tetapi masih mengantisipasi berbagai kemungkinan hingga melihat bukti nyata di lapangan," ujar Waterer.

Di sisi lain, sejumlah negara mulai meningkatkan produksi minyak seiring dengan dibukanya kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini sebelumnya berperan penting dalam mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum konflik.

Laporan dari cnnindonesia.com mengutip Reuters, menyebutkan bahwa produksi minyak Kuwait melonjak menjadi 1,65 juta barel per hari pada Juni, naik dari 580 ribu barel per hari pada Mei. Peningkatan ini terjadi setelah Kuwait, sebagai anggota OPEC, meningkatkan ekspor menyusul kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran.

Selain itu, setidaknya lima kapal tanker raksasa yang membawa sekitar 10 juta barel minyak Arab Saudi dilaporkan telah berhasil keluar dari Selat Hormuz. Bersamaan dengan itu, Saudi Aramco dikabarkan mulai menerapkan sistem harga spot untuk mempercepat penjualan minyak ke pasar Asia.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.