bytedaily
Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:57 WIB

IHSG Sempat Turun ke Bawah 5.000, Isu MSCI Bebani Sentimen Investor

Redaksi 30 Oktober 2026 4 views
IHSG Sempat Turun ke Bawah 5.000, Isu MSCI Bebani Sentimen Investor
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan ekonomi.republika.co.id, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia dibuka melemah pada Jumat (30/10/2026), di tengah kekhawatiran soal kredibilitas pasar modal dalam negeri dan ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed. IHSG turun 31,12 poin atau 0,61 persen ke level 5.066,94, lalu sempat menyentuh 4.979,34.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan isu terkait MSCI masih memengaruhi kepercayaan pelaku pasar dan investor. Tekanan sebelumnya terlihat saat IHSG turun 3,49 persen dan imbal hasil obligasi naik hingga 7,64 persen.

Pasar juga mencermati kemungkinan keluarnya modal asing yang dapat menekan rupiah. Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri Indonesia Hashim Djojohadikusumo sebelumnya memperingatkan rupiah berpotensi melemah ke Rp20.000–Rp22.000 per dolar AS jika persoalan pasar modal terkait evaluasi MSCI tidak segera diselesaikan.

Menurut Maximilianus, pernyataan tersebut mencerminkan besarnya risiko terhadap kepercayaan investor pada pasar keuangan domestik, terutama di tengah ketidakpastian status Indonesia dalam indeks MSCI. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan fundamental ekonomi Indonesia masih relatif baik, tetapi investor tetap mewaspadai pelemahan rupiah.

Maximilianus memperkirakan BI akan memprioritaskan upaya menjaga rupiah melalui intervensi pasar dan instrumen moneter, tanpa harus langsung menaikkan suku bunga acuan. Namun, efektivitas langkah itu turut bergantung pada penyelesaian persoalan transparansi dan tata kelola pasar modal untuk memulihkan kepercayaan investor asing.

Ia menilai risiko pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga kredibilitas reformasi pasar keuangan domestik. Dari luar negeri, perhatian pasar tertuju pada kenaikan inflasi AS yang dapat memengaruhi kebijakan moneter The Fed.

Pilarmas mencatat indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS naik dari 3,4 persen menjadi 3,6 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, pertumbuhan belanja konsumen melambat dari 0,9 persen menjadi 0,5 persen. Kenaikan inflasi di tengah perlambatan belanja menambah ketidakpastian arah suku bunga AS dan berpotensi menekan pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

Dengan mempertimbangkan sentimen domestik dan eksternal tersebut, Pilarmas memperkirakan IHSG masih berpotensi melemah pada perdagangan Jumat. Analisis teknikal perusahaan menempatkan level support di 4.815 dan resistance di 5.185.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.