bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, tim ilmuwan berhasil memperoleh sinyal paling kuat yang dapat menjadi petunjuk keberadaan materi gelap, sebuah misteri utama dalam fisika yang telah dicari selama hampir satu abad.
Sinyal tersebut terdeteksi dalam rangkaian eksperimen LUX‑ZEPLIN (LZ) yang terletak sekitar 1,6 km di bawah tanah di South Dakota, Amerika Serikat. Eksperimen ini menggunakan sebuah tangki berisi xenon cair untuk merekam peristiwa langka ketika partikel materi gelap berinteraksi dengan atom biasa.
Menurut laporan Newsweek pada Rabu (2 September), peristiwa ini muncul saat peneliti menganalisis data yang dikumpulkan selama 220 hari, mulai dari Maret 2023 hingga April 2024. Sinyal teridentifikasi pada daerah detektor yang diperkirakan menjadi lokasi utama interaksi materi gelap, serta pada zona dengan gangguan radiasi alami yang sangat rendah.
Tim peneliti menghitung peluang bahwa sinyal tersebut berasal dari latar belakang biasa hanya sekitar satu per 200, sebuah nilai yang tidak umum. Meski demikian, bukti yang ada belum cukup untuk mengklaim penemuan definitif.
Hingga kini, hanya satu peristiwa yang tidak dapat dijelaskan telah tercatat. Temuan ini dapat menjadi indikasi awal partikel materi gelap, namun juga berpotensi berasal dari sumber langka lain yang belum teridentifikasi.
"Kami tidak mengklaim telah melihat materi gelap, namun kami menemukan sesuatu yang sangat menarik," ujar juru bicara LZ, Rick Gaitskell, dalam pernyataan resmi.
Para peneliti mempresentasikan hasil temuan tersebut pada konferensi ilmiah di Jepang pada Selasa (1 September) dan berencana menerbitkan makalah secara daring serta mengirimkannya ke jurnal Physical Review Letters.
Menurut situs resmi NASA, materi gelap merupakan jenis materi yang tidak memancarkan, menyerap, atau memantulkan cahaya, sehingga tidak dapat dideteksi secara langsung dengan instrumen optik yang ada. Keberadaannya diketahui melalui pengaruh gravitasi yang memengaruhi bintang, galaksi, dan struktur kosmos secara keseluruhan.
NASA memperkirakan materi gelap menyumbang sekitar 85 % total massa alam semesta, meskipun belum pernah terdeteksi secara langsung.
Sejarah pencarian materi gelap dimulai pada 1933 ketika astronom Fritz Zwicky mengamati bahwa galaksi‑galaksi dalam Klaster Coma bergerak terlalu cepat untuk dijelaskan hanya oleh materi yang tampak, sehingga ia mengusulkan adanya materi tak terlihat yang memberikan tambahan gaya gravitasi.
Penerimaan konsep ini semakin meluas pada dekade 1970-an berkat penelitian Vera Rubin, yang menemukan bahwa bintang‑bintang di pinggiran galaksi berputar dengan kecepatan tinggi, menandakan adanya massa tambahan yang tak terlihat.
Materi gelap berperan penting dalam pembentukan struktur alam semesta; gravitasinya dianggap menjadi kerangka dasar bagi pembentukan galaksi dan gugus galaksi. Memahami sifat materi gelap diharapkan dapat menjelaskan evolusi alam semesta hingga kondisi yang kita amati saat ini.