bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, para ilmuwan dari Australian National University (ANU) telah menemukan cara baru untuk membantu masyarakat mengidentifikasi wajah yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) tanpa perlu menggunakan perangkat lunak pendeteksi AI.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) ini melibatkan pelatihan peserta untuk mengenali wajah buatan AI dengan fokus pada kesan visual secara keseluruhan. Pendekatan ini dilaporkan mampu meningkatkan akurasi peserta hingga hampir dua kali lipat, bahkan beberapa peserta mencapai tingkat akurasi yang mendekati sempurna.
Penelitian ini dilakukan seiring dengan meningkatnya penggunaan konten deepfake dan gambar buatan AI yang semakin sulit dibedakan dari aslinya. Volume deepfake di internet diprediksi mengalami peningkatan signifikan setiap tahunnya, seiring dengan kemajuan generator gambar AI.
Sebelumnya, studi menunjukkan bahwa kemampuan manusia dalam membedakan konten AI dan konten asli masih setara dengan tebakan acak, terutama dalam membedakan wajah. Metode deteksi konvensional seperti mencari kesalahan visual pada latar belakang atau anatomi tubuh kini kurang efektif karena generator gambar AI terus berkembang. Alat pendeteksi AI komersial pun masih memiliki keterbatasan dan potensi kesalahan.
Para peneliti ANU mengalihkan fokus dari detail kecil ke 'global impressions' atau kesan keseluruhan wajah. Enam karakteristik yang menjadi perhatian meliputi simetri, proporsionalitas, daya tarik, ekspresivitas, keunikan, dan kemudahan wajah untuk diingat. AI cenderung menghasilkan wajah yang lebih 'tipikal' karena mengandalkan rata-rata matematis dari data pelatihan.
Temuan studi menunjukkan bahwa manusia secara intuitif merasakan perbedaan ini. Wajah buatan AI dinilai lebih simetris, proporsional, dan menarik, namun kurang khas, kurang mudah diingat, dan kurang ekspresif dibandingkan wajah manusia asli.