bytedaily
Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:42 WIB

Inalum Hemat Devisa hingga Rp 9 Triliun per Tahun Berkat Pasokan Alumina Domestik

Redaksi 14 Oktober 2026 4 views
Inalum Hemat Devisa hingga Rp 9 Triliun per Tahun Berkat Pasokan Alumina Domestik
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menghemat devisa sekitar Rp 7 triliun hingga Rp 9 triliun per tahun karena tidak lagi mengimpor alumina untuk bahan baku produksi aluminium. Penghematan ini didukung fasilitas pemurnian bauksit menjadi alumina di dalam negeri, yang merupakan bagian dari program hilirisasi mineral Grup MIND ID.

Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum, Arif Haendra, menyebut pasokan alumina domestik mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap bahan baku dari luar negeri. Inalum kini memperoleh alumina dari fasilitas pemurnian dalam ekosistem industri bauksit–alumina–aluminium nasional. Arif menyampaikan hal tersebut dalam BIG Downstream Insight 2026, sebagaimana dikutip pada Selasa (13/10/2026).

Pengembangan ekosistem hilirisasi di Mempawah, Kalimantan Barat, dilakukan Inalum bersama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM). Kawasan itu mencakup enam proyek, yakni lima proyek Grup MIND ID dan satu proyek Pelindo.

Pasokan bijih bauksit untuk industri tersebut berasal dari satu izin usaha pertambangan (IUP) ANTAM dan enam IUP milik anak perusahaannya. Bijih itu diolah di fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) menjadi alumina untuk memenuhi kebutuhan industri aluminium.

SGAR fase I telah berproduksi dengan kapasitas hingga 1 juta ton alumina per tahun. Sebanyak 550 ribu ton dialokasikan untuk kebutuhan Inalum berdasarkan perjanjian jangka panjang, sementara 450 ribu ton lainnya ditujukan untuk ekspor.

Dengan kapasitas tersebut, pasokan alumina bagi kebutuhan dalam negeri dapat berjalan bersamaan dengan penjualan ke pasar internasional. Fasilitas pemurnian di dalam negeri juga menghubungkan kegiatan penambangan bauksit dengan pengolahan aluminium agar mineral dapat dimanfaatkan lebih lanjut di Indonesia.

Inalum dan ANTAM juga menyiapkan SGAR fase II. Arif mengatakan studi kelayakan yang memenuhi persyaratan perbankan atau bankable feasibility study (BFS) telah rampung dan proyek itu akan segera memasuki tahap keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID).

Pengembangan rantai industri bauksit–alumina–aluminium diharapkan memperkuat kemandirian pasokan bahan baku dan daya saing industri pengolahan nasional. Alumina domestik juga menjadi modal bagi sektor pengguna aluminium, termasuk manufaktur kendaraan listrik, konstruksi, transportasi, dan kelistrikan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.