bytedaily
Jumat, 03 Juli 2026 - 13:28 WIB

Indonesia Butuh 4 Juta KL Etanol untuk Program E20 Demi Menekan Impor BBM

Redaksi 29 Juni 2026 9 views
Indonesia Butuh 4 Juta KL Etanol untuk Program E20 Demi Menekan Impor BBM
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter (KL) etanol untuk mendukung implementasi program bauran bioetanol E20. Program ini merupakan salah satu strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Kebutuhan bensin nasional Indonesia tercatat mencapai kurang lebih 40 juta KL per tahun. Dengan kapasitas produksi dalam negeri yang hanya sekitar 14,3 juta KL, Indonesia masih harus mengimpor hampir 25 juta KL bensin setiap tahunnya. Meskipun peresmian kilang Balikpapan pada Januari 2026 diproyeksikan akan menambah kapasitas produksi sebesar 5,5 juta KL, angka impor bensin diperkirakan masih akan menyisakan sekitar 20 juta KL.

Untuk mengatasi kekurangan pasokan bensin tersebut, pemerintah akan menerapkan Program E20, yang mengombinasikan bensin dengan 20 persen etanol. Kebijakan ini terinspirasi dari kesuksesan program biodiesel berbasis kelapa sawit, yang telah berkembang dari B10 hingga B50 pada sektor solar. Pendekatan serupa akan diadopsi untuk sektor bensin melalui pengembangan industri bioetanol domestik.

Bahan baku untuk produksi etanol sebesar 4 juta KL tersebut akan berasal dari komoditas pertanian seperti tebu, singkong, dan jagung. Pemerintah akan bertindak sebagai pembeli utama (off-taker) untuk menyerap seluruh produksi etanol yang dihasilkan oleh petani dan pelaku usaha di sektor hulu. Selain menekan angka impor bensin, implementasi Program E20 juga diharapkan dapat memberikan nilai tambah signifikan bagi sektor pertanian dan industri bioenergi nasional, sekaligus mendukung upaya pencapaian target net zero emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.