bytedaily - Melansir laporan dari valbury.co.id, inflasi Zona Euro berdasarkan data awal meningkat menjadi 3,8% secara tahunan pada September, dari 3,2% pada Agustus. Angka tersebut melampaui perkiraan pasar sebesar 3,6%. Harga pangan dan kemungkinan energi disebut menjadi pendorong kenaikan, sementara inflasi inti naik menjadi 2,5% dari 2,4%, sesuai ekspektasi.
Euro bergerak hampir datar terhadap dolar AS pada Jumat, dengan pasangan EUR/USD berada di sekitar 1,1250 setelah turun dari level tertinggi sesi di dekat 1,1270. Mata uang itu masih berada di sekitar level terendah 16 bulan, yakni 1,1210, yang tercatat pada Kamis. Euro juga menuju penurunan mingguan sebesar 1,26%, di tengah kekhawatiran mengenai kondisi fiskal Prancis dan tingginya harga minyak.
Minyak mentah Brent turun di bawah US$100 per barel pada Jumat setelah muncul laporan mengenai peningkatan tajam pasokan dari negara-negara Teluk pada September. Meski demikian, harga minyak mentah telah naik lebih dari 30% dalam tiga bulan terakhir dan masih berada pada tingkat yang berisiko bagi perekonomian Zona Euro.
Dolar AS mendapat dukungan dari sentimen penghindaran risiko di tengah aksi jual obligasi global. Pergerakan tersebut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka panjang ke level tertinggi dalam 24 tahun. Di Eropa, selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis dan Jerman melampaui 140 basis poin, mencapai tingkat tertinggi dalam 14 tahun, sehingga menambah tekanan terhadap euro.
Utang publik Prancis telah mencapai tingkat yang tidak terlihat sejak periode pascaperang dan turut mendorong kenaikan biaya pinjaman. Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun naik lebih dari 70 basis poin selama September ke level tertinggi sejak 2002.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada laporan ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada hari itu. Konsensus pasar memperkirakan penambahan 90 ribu lapangan kerja pada September, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap 4,1%. Menurut laporan tersebut, hasil seperti itu akan mendukung ekspektasi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh Federal Reserve, meskipun data inflasi terbaru telah mengurangi perkiraan kenaikan suku bunga pada Oktober.