bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, InfraNexia menargetkan bisnis konektivitas antarpusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dalam kelanjutan pemisahan bisnis dan aset tahap kedua dari Telkom.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji mengatakan, konektivitas antarpusat data akan menjadi salah satu fokus InfraNexia. Perusahaan sedang memetakan kebutuhan penyedia layanan komputasi berskala besar atau hyperscaler untuk menentukan rencana perluasan jaringan.
Pemetaan yang disebut sebagai AI heatmap itu akan menjadi dasar pengembangan konektivitas antarpusat data. Seno mengatakan rencana tersebut berjalan seiring upaya meningkatkan pemanfaatan aset serat optik yang tingkat penggunaannya masih rendah meski investasinya telah dilakukan.
InfraNexia juga berencana membuka layanan bagi berbagai operator atau menerapkan model carrier-neutral. Perusahaan berharap langkah ini dapat memperluas pasar dan meningkatkan penggunaan jaringan yang dimiliki.
Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd Rauf mengatakan modernisasi infrastruktur menjadi pekerjaan yang perlu segera dilakukan setelah pemindahan aset. Pembaruan diperlukan agar perangkat perusahaan sesuai dengan perkembangan industri, termasuk kebutuhan AI, komputasi awan, dan platform digital.
Lukman menjelaskan bisnis InfraNexia mencakup dua kelompok utama, yaitu layanan konektivitas jaringan secara wholesale dan layanan akses berbasis serat optik atau FTTx. Keduanya melayani pelanggan internal serta eksternal Telkom Group.
InfraNexia telah mengoperasikan aset yang dialihkan pada tahap pertama. Pemindahan aset selanjutnya diharapkan memperluas jangkauan usaha dan memberi peluang untuk mengembangkan produk. Hingga semester I 2026, pelanggan eksternal menyumbang lebih dari 15 persen pendapatan, sementara pendapatan dari segmen tersebut tumbuh di atas 30 persen secara tahunan.
Pemisahan tahap kedua telah disetujui pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Telkom. Dalam agenda yang sama, Direktur Utama Telkom Dian Siswarini digantikan oleh Direktur Network Nanang Hendarno.
Nanang menyebut nilai aset atau segmen usaha wholesale yang dipisahkan mencapai Rp49,9 triliun. Ia menegaskan angka itu merupakan nilai aset, bukan pendapatan atau penerimaan kas langsung bagi Telkom. InfraNexia tetap berada di bawah kendali Telkom dengan kepemilikan saham sebesar 99,9 persen.
Menurut Nanang, pemisahan tersebut bertujuan memperbaiki pengelolaan bisnis dan aset serta meningkatkan transparansi kinerja.