bytedaily
Kamis, 20 Agustus 2026 - 14:15 WIB

Inggris Pertimbangkan Wajibkan AC di Rumah Baru untuk Hadapi Krisis Iklim

Redaksi 28 Juli 2026 14 views
Inggris Pertimbangkan Wajibkan AC di Rumah Baru untuk Hadapi Krisis Iklim
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Partai Demokrat Liberal Inggris mengusulkan agar seluruh pembangunan rumah baru diwajibkan dilengkapi dengan pendingin udara atau sistem penyejuk lainnya. Usulan ini muncul sebagai respons terhadap peningkatan suhu global akibat krisis iklim yang membuat banyak hunian di Inggris tidak siap menghadapi cuaca panas ekstrem.

Menurut partai oposisi tersebut, kondisi rumah yang tidak memadai untuk cuaca panas dapat membahayakan penghuninya, terutama bagi kelompok lanjut usia dan individu dengan kondisi kesehatan rentan. Program yang dinamai "siap iklim" ini akan mewajibkan para pengembang untuk memasang pendingin udara atau sistem pendinginan alternatif di setiap unit rumah baru.

Selain itu, partai ini juga mendorong agar fasilitas pendingin udara menjadi standar wajib di bangunan publik esensial seperti sekolah dan fasilitas kesehatan. Sebagai pelengkap, Partai Demokrat Liberal juga mengadvokasi penerapan metode pendinginan pasif, termasuk peningkatan jumlah pohon di area permukiman.

Juru bicara lingkungan Partai Demokrat Liberal, Tim Farron, menyatakan bahwa gelombang panas yang terjadi baru-baru ini menunjukkan ketidaksiapan Inggris dalam menghadapi suhu ekstrem. Ia menekankan pentingnya pemerintah untuk menyusun rencana baru yang mewajibkan pengembang membangun rumah yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim masa depan, termasuk dengan insulasi yang memadai dan sistem pendingin udara.

Usulan ini disampaikan bertepatan dengan keluarnya peringatan kuning terkait suhu tinggi dari badan perlindungan kesehatan Inggris di beberapa wilayah. Peringatan tersebut berlaku untuk beberapa hari di wilayah tenggara, barat daya, timur, serta kawasan Midlands, Yorkshire, dan Humber, dengan prediksi suhu di London mencapai 32 derajat Celsius pada satu titik.

Juru bicara perumahan Partai Demokrat Liberal, Gideon Amos, menambahkan bahwa kebutuhan akan pendingin udara di rumah-rumah Inggris semakin meningkat. Ia menyebutkan bahwa banyak hunian di Inggris termasuk yang terkecil dan terpanas di Eropa, terutama setelah penghapusan standar minimum luas hunian oleh pemerintahan sebelumnya. Diperkirakan, jumlah rumah di Inggris yang memiliki pendingin udara meningkat dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir, namun masih terbatas pada sekitar 4 juta dari lebih dari 30 juta rumah.

Survei yang dilakukan untuk partai tersebut menunjukkan bahwa 28 persen responden membeli kipas angin atau pendingin udara selama gelombang panas terakhir, dan 26 persen responden mengaku merasa tidak sehat atau hampir pingsan akibat cuaca panas. Musim panas di Inggris tahun ini juga ditandai dengan kekeringan parah, dengan curah hujan yang sangat rendah sepanjang Juli, meningkatkan risiko kebakaran hutan.

Analisis dari Imperial College London memperkirakan bahwa gelombang panas pada Mei dan Juni telah menyebabkan kematian sekitar 2.700 orang, dengan tingkat kematian puncak mencapai sekitar 440 orang per hari. Analisis tersebut juga menyimpulkan bahwa pemanasan global akibat aktivitas manusia memperburuk kondisi panas ekstrem, dengan lebih dari 40 persen kematian yang tercatat diperkirakan tidak akan terjadi tanpa dampak pemanasan global tersebut.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.