bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Apple diperkirakan akan menghadapi kelangkaan stok untuk produk ponsel lipat pertamanya, yang diprediksi akan diberi nama iPhone Ultra. Analis Ming-Chi Kuo memproyeksikan bahwa perangkat ini akan memiliki harga yang signifikan, diperkirakan mencapai US$2.300 hingga US$2.500 atau setara dengan Rp41,3 juta hingga Rp44,9 juta, yang berarti dua kali lipat dari harga iPhone 17 Pro Max.
Meskipun harganya diprediksi sangat tinggi, Kuo memperkirakan iPhone Ultra akan tetap diminati hingga akhir tahun 2026. Namun, peluncurannya diprediksi akan mengalami sedikit penundaan, dengan pengiriman baru dimulai sekitar satu bulan setelah diperkenalkan pada September mendatang, bersamaan dengan lini iPhone 18 Pro dan Pro Max. Akibat tingginya minat dan terbatasnya pasokan awal, masa tunggu pemesanan diperkirakan bisa mencapai 4-6 minggu atau lebih lama.
Menurut informasi dari cnnindonesia.com yang mengutip Engadget, Apple diperkirakan hanya mampu memproduksi 500.000 hingga 1 juta unit pada fase awal peluncuran di akhir kuartal ketiga 2026. Kapasitas produksi baru akan ditingkatkan setelah kuartal pertama pasca-rilis untuk mengejar target pengiriman 7 hingga 8 juta unit pada akhir 2026.
Kuo menjelaskan bahwa keterbatasan produksi di awal disebabkan oleh kompleksitas inovasi desain lipat iPhone Ultra yang menimbulkan tantangan teknis dalam produksi massal. Situasi ini disebut mirip dengan peluncuran iPhone X yang juga mengalami kendala produksi akibat pengadopsian teknologi baru.
Meskipun Apple belum memberikan konfirmasi resmi, kemunculan sistem operasi iOS 27 versi beta dengan istilah seperti "foldState" dan "angleDegrees" memperkuat indikasi kehadiran perangkat lipat ini. Rumor spesifikasi menyebutkan ukuran layar 5,5 inci saat ditutup dan 7,8 inci saat dibuka, dengan desain yang lebih kotak dan penggunaan panel OLED fleksibel untuk meminimalkan bekas lipatan.