bytedaily - Menurut informasi dari cnnindonesia.com, sejumlah pusat data kecerdasan buatan (AI) milik Amerika Serikat yang berlokasi di negara-negara Timur Tengah kini menjadi sasaran serangan Iran. Infrastruktur teknologi yang menjadi target ini dianggap krusial bagi masa depan ekonomi global, dan serangan fisik terhadap pusat data AI merupakan perkembangan baru di tahun 2026, setelah sebelumnya lebih sering menjadi sasaran serangan siber.
Washington memandang AI sebagai elemen penting bagi keamanan nasional dan pertumbuhan ekonomi, termasuk bagi industri yang telah berinvestasi besar dalam pembangunan pusat data di berbagai belahan dunia. Iran juga dilaporkan melakukan serangan balasan terhadap pusat data AI milik Amerika Serikat. Serangan terbaru yang dilaporkan adalah terhadap pusat data milik Amazon di Bahrain pada akhir bulan lalu.
Meskipun Amazon enggan berkomentar, data dari Amazon Web Service (AWS) mengindikasikan adanya gangguan di wilayah tersebut sejak serangan awal pada 30 April. Citra satelit juga menunjukkan kerusakan yang cukup signifikan pada fasilitas AWS tersebut. Pasca serangan tersebut, Iran melalui IRGC menerbitkan daftar 29 target teknologi regional yang rencananya akan diserang, termasuk fasilitas milik Amazon, Google, Microsoft, Nvidia, dan Palantir.
Teheran mengklaim bahwa serangan terhadap fasilitas Amazon pada 21 Juli lalu dilancarkan karena Amazon berperan sebagai penyedia layanan cloud untuk operasi intelijen militer Amerika Serikat. Amazon memang memiliki berbagai kontrak dengan pemerintah AS, termasuk bagian dari proyek Joint Warfighting Cloud Capability senilai US$9 miliar, di mana Google, Microsoft, dan Oracle juga turut berpartisipasi.
Pentingnya pusat data di kawasan Timur Tengah tidak hanya bagi militer AS dan industri AI, tetapi juga bagi negara-negara Teluk yang bercita-cita menjadi pusat AI global ketiga setelah Amerika Serikat dan Tiongkok. Arab Saudi telah mengalokasikan sebagian besar dana kekayaan negaranya untuk pengembangan AI, sementara Uni Emirat Arab menjalin kesepakatan dengan pemerintahan Trump untuk membangun Stargate, sebuah pusat data AI senilai US$500 miliar, yang merupakan proyek terbesar di luar Amerika Serikat. Proyek ini melibatkan kemitraan dengan OpenAI, Oracle, Nvidia, dan Cisco.