bytedaily
Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:22 WIB

Jadwal Fenomena Langit yang Dapat Diamati pada Oktober 2026

Redaksi 01 Oktober 2026 8 views
Jadwal Fenomena Langit yang Dapat Diamati pada Oktober 2026
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir informasi dari cnnindonesia.com, sejumlah fenomena langit akan berlangsung sepanjang Oktober 2026, termasuk oposisi Saturnus dan hujan meteor. Sebagian dapat diamati tanpa alat, sementara lainnya memerlukan teropong atau teleskop. Pengamatan akan lebih baik jika cuaca cerah dan dilakukan di tempat yang minim polusi cahaya.

Mengutip Seasky dan Time and Date, Saturnus akan mencapai oposisi pada 4 Oktober. Saat itu, planet tersebut berada berlawanan arah dengan Bumi dari Matahari, sehingga permukaannya mendapat penerangan penuh. Saturnus juga berada pada jarak terdekatnya dari Bumi dan tampak lebih terang dibandingkan hari-hari lain sepanjang tahun. Planet ini dapat terlihat sejak Matahari terbenam hingga terbit kembali. Cincin dan beberapa bulannya yang paling terang bisa diamati dengan teleskop atau kamera tele, sedangkan dengan mata telanjang Saturnus tampak seperti bintang biasa.

Hujan meteor Draconid diperkirakan berlangsung pada 6–10 Oktober. Fenomena ini berasal dari debu komet 21P Giacobini-Zinner dan dapat menghasilkan sekitar 10 meteor per jam. Waktu pengamatan terbaik tahun ini adalah sebelum Bulan Baru, saat langit gelap pada 7 Oktober. Berbeda dengan sejumlah hujan meteor lain, Draconid lebih baik diamati pada awal malam dari lokasi yang jauh dari lampu kota.

Bulan Baru terjadi pada 10 Oktober, ketika Bulan berada di sisi Bumi yang sama dengan Matahari dan tidak terlihat di langit malam. Minimnya cahaya Bulan membuat fase ini cocok untuk mengamati objek redup, seperti galaksi dan gugusan bintang.

Merkurius mencapai elongasi timur terbesarnya pada 12 Oktober, dengan jarak sudut 19,6 derajat dari Matahari. Waktu tersebut menjadi kesempatan terbaik untuk mengamati planet itu karena posisinya berada pada titik tertinggi di atas cakrawala langit malam. Merkurius akan terlihat di bagian bawah langit barat setelah Matahari terbenam.

Hujan meteor Orionid diperkirakan mencapai puncak sekitar 21–22 Oktober. Fenomena ini berasal dari debu Komet Halley, telah dikenal sejak zaman kuno, dan memancar dari arah konstelasi Orion. Peristiwa ini berlangsung pada 2 Oktober hingga 7 November dengan rata-rata sekitar 20 meteor per jam saat puncak. Cahaya Bulan sabit yang membesar dapat mengurangi jumlah meteor yang terlihat. Namun, Bulan diperkirakan terbenam pada tengah malam sehingga langit kembali gelap.

Bulan purnama Oktober terjadi pada 26 Oktober. Pada fase ini, Bulan berada di sisi Bumi yang berlawanan dengan Matahari dan permukaannya diterangi sepenuhnya. Purnama Oktober juga dikenal dengan sebutan Bulan Pemburu, Padi Kering, Bulan Darah, atau Bulan Sanguin. Sebutan Bulan Pemburu berasal dari kebiasaan suku-suku asli Amerika yang memanfaatkan waktu tersebut untuk berburu hewan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.