bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, sejumlah bank di Korea Selatan mengalami serangan siber yang diduga melibatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pihak berwenang tengah menyelidiki insiden tersebut.
Komisi Layanan Keuangan Korea Selatan (FSC) menggelar rapat darurat setelah serangkaian serangan menyasar lembaga keuangan. Dalam rapat itu, pejabat mengonfirmasi kebocoran data di Shinhan Bank dan membahas dampak insiden terhadap bank lain, termasuk KB Kookmin Bank.
Sekitar 25.000 data nasabah Shinhan Bank dilaporkan bocor. Informasi kartu kredit milik 119.000 nasabah Kookmin Bank juga tersebar. Sementara itu, Hana Bank mengalami kebocoran data dalam skala kecil setelah sistem dukungan penjualannya diretas.
Dikutip dari Bleeping Computer, otoritas Korea Selatan mulai menyelidiki kasus setelah menerima laporan. Informasi penting mengenai insiden itu juga telah diteruskan kepada instansi terkait, termasuk Badan Perlindungan Data Korea (KISA).
Perusahaan keuangan di negara tersebut diminta memeriksa sistem dan layanan teknologi informasi yang dapat diakses dari luar, termasuk layanan yang tidak digunakan langsung oleh nasabah. Mereka juga diminta membatasi penyebaran informasi yang tidak diperlukan serta memeriksa kecukupan sistem autentikasi dan kontrol akses.
Otoritas turut meminta perusahaan berbagi informasi mengenai ancaman siber, berkoordinasi dalam penanganannya, dan segera menyerahkan hasil pemeriksaan keamanan internal. Mereka berjanji mengawasi perlindungan konsumen dan pemberian kompensasi, serta menganalisis insiden untuk menentukan aturan yang perlu diperbaiki.
Hingga kini, pihak berwenang belum mengungkap pelaku serangan. Menurut kantor berita Korea Selatan Yonhap, sejumlah pihak menduga AI digunakan dalam serangan tersebut. Yonhap juga melaporkan bahwa sebuah server yang dipakai dalam serangan memiliki judul halaman HTML berbahasa Mandarin yang berkaitan dengan ARTEX AI.
ARTEX AI merupakan sistem pengujian keamanan sumber terbuka yang memakai bot atau agen untuk mengotomatisasi pengumpulan informasi, pencarian celah, perencanaan jalur serangan, penggunaan alat peretas, hingga verifikasi kerentanan. Namun, otoritas perbankan dan keuangan belum dapat memastikan bahwa sistem itu digunakan dalam pembobolan Shinhan Bank. Teks berbahasa Mandarin yang ditemukan juga dinilai belum cukup untuk menghubungkan serangan dengan kelompok peretas tertentu.
Pimpinan Genian Security Center, Moon Jong Hyun, mengatakan sejumlah analis keamanan siber meyakini insiden tersebut melibatkan perangkat peretasan otomatis berbasis AI. Sebelumnya, media lokal melaporkan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung meminta penyelidikan menyeluruh atas kebocoran data pribadi di berbagai lembaga keuangan dan publik.