bytedaily - Dilansir dari bbc.com, sejumlah klub Liga Primer Inggris menghadapi potensi kehilangan tempat di kompetisi Eropa musim depan akibat aturan kepemilikan multi-klub (MCO) yang diterapkan oleh UEFA. Aturan ini bertujuan untuk menjaga integritas olahraga dengan mencegah tim-tim yang memiliki hubungan erat untuk berkompetisi bersama.
UEFA memiliki peraturan ketat terkait kepemilikan multi-klub yang dapat menyebabkan sebuah tim terdegradasi dari satu kompetisi ke kompetisi lain, atau bahkan tereliminasi dari kompetisi Eropa sama sekali. Musim lalu, Crystal Palace mengalami hal serupa, tergeser dari Liga Europa ke Liga Konferensi.
Setengah dari klub Liga Primer kini memiliki keterkaitan dalam bentuk pengaturan multi-klub. Everton, Chelsea, dan Nottingham Forest dikabarkan telah mengerahkan tim hukum mereka untuk mencari solusi sebelum batas waktu kepatuhan UEFA pada 1 Maret. Sementara itu, Brighton & Hove Albion berharap langkah yang mereka ambil tiga tahun lalu masih memenuhi persyaratan.
Klub-klub telah berdiskusi intensif dengan UEFA untuk memastikan kepatuhan. UEFA menekankan bahwa integritas olahraga sangat penting dan tidak boleh diragukan, serta dua tim yang sangat terkait seharusnya tidak bermain di kompetisi yang sama. Keterkaitan ini mencakup kepemilikan saham dan hak suara, dengan ambang batas umum 30%, serta pengaruh yang menentukan, seperti keterlibatan direktur atau staf dalam keputusan kunci.
Jika Badan Pengendalian Finansial Klub (CFCB) UEFA menemukan adanya konflik, salah satu klub harus dicopot dari kompetisi. Prioritas diberikan kepada tim yang berada di kompetisi berperingkat lebih tinggi. Setelah bertahun-tahun mengizinkan klub mendaftarkan solusi setelah lolos kualifikasi, UEFA tahun lalu memajukan tanggal kepatuhan menjadi 1 Maret, yang berdampak pada tiga tim.
Crystal Palace, klub Irlandia Drogheda United, dan klub Slovakia FC DAC 1904 menjadi yang pertama menerima sanksi di bawah peraturan MCO. Ketiganya mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) namun kalah. Pada bulan Desember, UEFA mengeluarkan sirkular baru yang menegaskan bahwa 1 Maret tetap menjadi 'batas waktu kepatuhan yang ketat', merujuk pada putusan CAS.
Salah satu potensi cerita paling menarik adalah hubungan antara Everton dan AS Roma. Everton saat ini berada di posisi ke-11 Liga Primer, namun hanya terpaut tiga poin dari posisi keenam yang berhak mendapatkan tiket Liga Europa. Di Serie A, Roma memiliki poin yang sama dengan tim peringkat kelima, Como, yang juga akan memberikan mereka tempat di Liga Europa.
Kedua klub dimiliki oleh Friedkin Group melalui entitas anak perusahaan. Everton dikendalikan oleh Roundhouse Capital Holdings Limited, sementara Roma di bawah Romulus and Remus Investments. Dua individu dengan kendali signifikan di Roundhouse Capital Holdings adalah Analaura Moreira-Dunkel dan Marcus Watts, yang merupakan pejabat tinggi di Friedkin Group. Mereka juga duduk di dewan Everton dan pernah dikaitkan dengan Roma setelah pengambilalihan, meskipun kini tidak lagi memiliki peran yang teridentifikasi di klub Italia tersebut.
Masalah Everton berpotensi muncul karena miliarder AS, Dan Friedkin, menjabat sebagai ketua klub tersebut sekaligus presiden AS Roma.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi bbc.com.