bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, pertumbuhan ekonomi Thailand pada kuartal II 2026 tercatat melambat menjadi 1,9 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini mengalami penurunan dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 2,8 persen. Perlambatan ini terutama disebabkan oleh tekanan pada konsumsi rumah tangga yang dipengaruhi oleh tingginya utang masyarakat dan biaya hidup.
Kepala National Economic and Social Development Council (NESDC) Thailand, Danucha Pichayanan, memperkirakan perekonomian negara tersebut akan menunjukkan penguatan pada kuartal III 2026. Ia juga menyebut bahwa kinerja ekonomi pada kuartal II cukup dipengaruhi oleh konflik yang terjadi di Timur Tengah. Meskipun pertumbuhan ekonomi Thailand masih berada di atas perkiraan pasar sebesar 1,7 persen, kontraksi sebesar 0,2 persen secara kuartalan dengan penyesuaian musiman juga tercatat pada periode April-Juni 2026.
Selain konsumsi rumah tangga yang tertekan oleh utang dan biaya hidup, investasi pemerintah di Thailand juga mengalami penurunan. Namun, investasi swasta masih menjadi salah satu penopang ekonomi dengan pertumbuhan mencapai 13,4 persen pada kuartal II, didukung pula oleh peningkatan ekspor barang. Meskipun demikian, penguatan di sektor swasta dan ekspor belum mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi Thailand secara signifikan.
Menyikapi kondisi tersebut, Thailand telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2026 menjadi antara 2 hingga 2,5 persen, naik dari perkiraan sebelumnya yang berkisar antara 1,5 hingga 2,5 persen.