bytedaily - Menurut informasi dari ekonomi.republika.co.id, lembaga riset NEXT Indonesia Center mengidentifikasi adanya pergeseran positif dalam penyaluran kredit perbankan nasional. Penyaluran kredit kini lebih diarahkan ke sektor-sektor produktif, berbeda dari sebelumnya yang didominasi oleh pembiayaan konsumsi.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, menyatakan bahwa perubahan ini menandakan industri perbankan semakin selektif dalam memilih sektor yang berpotensi tumbuh lebih baik dengan risiko yang terkendali. Bank tidak hanya mempertimbangkan besaran kebutuhan pembiayaan, tetapi juga prospek usaha, kualitas risiko, dan kontribusi sektor terhadap pertumbuhan ekonomi. Pergeseran ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan mulai lebih mengalir ke sektor pencipta nilai tambah.
Laporan terbaru NEXT Indonesia Center berjudul Sektor Usaha Favorit Perbankan mencatat peningkatan outstanding kredit bank umum selama tiga tahun terakhir. Per April 2026, total kredit bank umum mencapai Rp 8.755 triliun, dengan Rp 6.454 triliun mengalir ke sektor ekonomi dan Rp 2.301 triliun untuk konsumsi rumah tangga.
Perubahan paling signifikan terlihat pada komposisi penggunaan kredit, di mana kredit investasi menjadi pendorong utama pertumbuhan dalam periode 2024–2026. Hingga April 2026, kredit investasi tumbuh 19,48 persen secara tahunan (year on year/yoy), jauh melampaui pertumbuhan kredit modal kerja (6,04 persen yoy) dan kredit konsumsi (6,13 persen yoy). Hal ini mengindikasikan peningkatan pembiayaan untuk pembangunan aset produktif, ekspansi usaha, dan investasi jangka panjang.
Lima sektor utama yang menjadi tujuan ekspansi kredit perbankan adalah konstruksi, pengadaan listrik dan gas, aktivitas profesional dan perusahaan, real estat, serta aktivitas kesehatan manusia dan aktivitas sosial. Christiantoko menambahkan bahwa dominasi kredit investasi mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek bisnis di masa depan, yang menunjukkan keyakinan terhadap ruang pertumbuhan ekonomi.
Kualitas kredit perbankan secara umum tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross sebesar 2,17 persen pada April 2026. Namun, terdapat perbedaan profil risiko berdasarkan jenis penggunaan kredit. Kredit investasi menunjukkan kualitas terbaik dengan NPL 1,34 persen, sementara kredit modal kerja masih menjadi segmen dengan risiko terbesar dengan NPL mencapai 2,64 persen pada periode yang sama.