bytedaily - Aset kripto menunjukkan penguatan signifikan di tengah ketegangan geopolitik global, dengan Bitcoin berhasil mendekati level 75.000 dolar AS pada Senin (13/4). Lonjakan ini dipicu oleh kombinasi faktor, termasuk fenomena short squeeze masif yang diperparah oleh blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat dan respons tak terduga Iran yang mewajibkan pembayaran 'Tol Bitcoin' bagi kapal tanker. Kebijakan Iran ini menciptakan permintaan organik instan untuk Bitcoin, sekaligus menjadi strategi untuk menghindari sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem keuangan di luar jangkauan AS.
Kenaikan harga Bitcoin, yang juga didukung oleh lonjakan inflasi Amerika Serikat (CPI) ke 3,3% pada Jumat (10/4), mengukuhkan pandangan pelaku pasar terhadap kripto sebagai alternatif lindung nilai dan aset strategis dalam ekonomi modern. Antony Kusuma, Vice President Indodax, menyoroti bahwa dinamika ini tidak hanya memicu likuidasi posisi short senilai ratusan juta dolar, tetapi juga mengindikasikan pergeseran persepsi kripto dari aset spekulatif menjadi alat yang relevan dalam perdagangan internasional dan geopolitik. Arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot yang mencapai sekitar 1,94 miliar dolar AS sepanjang Maret hingga April turut memperkuat momentum positif ini.
Sentimen positif ini juga merembet ke aset kripto lainnya, dengan Ethereum (ETH) menguat 8% ke 2.380 dolar AS, Solana (SOL) naik 5,2% ke 86,60 dolar AS, dan BNB menguat 3,2% ke 615,50 dolar AS. Perkembangan ini menandai fase baru adopsi kripto, di mana teknologi blockchain semakin menunjukkan relevansinya dalam sistem ekonomi global. Meskipun demikian, pelaku pasar diingatkan untuk tetap waspada terhadap volatilitas inheren pasar kripto, serta faktor-faktor lain seperti kebutuhan likuiditas menjelang rilis data ekonomi penting.