bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, Anthropic memperkirakan kecerdasan buatan (AI) dapat digunakan untuk menyebarkan berita palsu dan disinformasi secara masif, sehingga berisiko mengganggu pemilu di Asia Tenggara. Laporan perusahaan AI itu pada September mencatat penggunaan Claude untuk memengaruhi politik di sejumlah daerah pemilihan di Malaysia.
Menurut laporan yang dikutip The Guardian pada Kamis (1/10), AI dimanfaatkan untuk membangun operasi manipulasi pemilu. Operasi itu menggunakan sekitar 1.000 akun X, situs berita palsu bernama Malaysia Pulse, serta sejumlah dokumen palsu. Pelaku diduga menyasar calon pemilih dengan memanfaatkan data sensus dan data pemilih dari 222 daerah pemilihan parlemen Malaysia.
Konten yang dibuat disebut mengangkat isu politik dan sosial sensitif, termasuk isu suku, agama, ras, dan antargolongan. Bridget Welsh dari University of Nottingham Asia Research Institute Malaysia menilai kejadian tersebut dapat memperuncing polarisasi dan perpecahan politik.
Laporan Anthropic menyebut sejumlah media palsu mengambil bahan dari media Malaysia, lalu meminta model AI menulis ulang konten itu beberapa kali sebelum menerbitkannya dengan nama samaran. Mereka juga menggunakan berita dari media asing, termasuk TV BRICS, Xinhua, Sputnik/RIA, dan CGTN, tanpa mencantumkan sumber. Anthropic kemudian menghapus akun-akun yang terlibat.
Kasus tersebut menambah kekhawatiran tentang penggunaan AI untuk memengaruhi politik, terutama di Asia Tenggara yang dinilai rentan terhadap berita palsu dan provokasi media. Penggunaan media sosial yang tinggi di kawasan ini turut menjadi perhatian.
Jurnalis Filipina peraih Nobel Maria Ressa mengatakan Asia Tenggara telah lama menjadi tempat uji coba teknik propaganda dan manipulasi publik yang kemudian diterapkan di negara-negara Barat. Malaysia diperkirakan menggelar pemilu pada akhir 2027, disusul Filipina dan Kamboja pada 2028 serta Indonesia pada 2029. Teks sumber juga menyebut penggunaan AI dalam kampanye telah terbukti berhasil di kawasan tersebut.
Ben Loh dari Monash University Malaysia mengatakan AI dapat memperbesar ketegangan sosial, termasuk dalam kasus kebencian terhadap pengungsi Rohingya. Sementara itu, Katie Harbath dari perusahaan konsultan teknologi Anchor Change menilai AI mempermudah produksi konten palsu dalam jumlah lebih banyak, lebih personal, lebih cepat, dan lebih murah.