bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyatakan bahwa fenomena El Nino pada tahun ini diprediksi memiliki intensitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kejadian serupa pada tahun 2015. Pernyataan ini disampaikan Antoni berdasarkan koordinasi intensif dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Menurut data BMKG yang dirujuk, El Nino terkini mencapai intensitas sangat kuat dengan indeks Nino 3.4 sebesar +2,75. Kondisi ini mengindikasikan peningkatan suhu muka laut di Samudra Pasifik yang berpotensi mengurangi curah hujan di Indonesia. Ancaman ini diperkirakan semakin menguat seiring prediksi Indian Ocean Dipole (IOD) memasuki fase pada periode September-November 2026, yang selanjutnya dapat menyebabkan penurunan curah hujan di berbagai wilayah.
Antoni menjelaskan bahwa El Nino menyebabkan kondisi cuaca menjadi lebih panas dan kering dalam durasi yang lebih lama, sehingga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memperbesar risiko munculnya kabut asap. Citra satelit per tanggal 16 Agustus 2026 pukul 13.00 WIB menunjukkan terdeteksinya asap di beberapa wilayah seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan.
Untuk memitigasi perluasan karhutla, pemerintah menekankan pentingnya penguatan koordinasi dan peningkatan kewaspadaan dari seluruh pihak, terutama dalam kondisi iklim yang berpotensi lebih kering dan panas dibandingkan periode normal. Masyarakat dan korporasi diingatkan untuk tidak melakukan pembakaran lahan dan meningkatkan kehati-hatian terhadap sumber api sekecil apapun, termasuk tidak membuang puntung rokok sembarangan karena dapat memicu kebakaran.
Sebagai perbandingan, fenomena El Nino pada tahun 2015 juga telah memberikan dampak signifikan berupa musim kemarau yang panjang dan kering. Data NASA menunjukkan penurunan curah hujan yang cukup besar di sejumlah wilayah Indonesia akibat perubahan pola cuaca tersebut, yang kemudian memperparah karhutla dan menghasilkan kabut asap tebal yang mengganggu kualitas udara serta aktivitas masyarakat.