bytedaily - Melansir laporan ekonomi.republika.co.id, MIND ID menilai hilirisasi mineral dapat meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam Indonesia. Bauksit yang bernilai sekitar 40 dolar AS per ton sebagai bijih mentah, misalnya, dapat diolah menjadi aluminium senilai 3.200 dolar AS per ton—atau 80 kali lipat.
Pengolahan di dalam negeri memungkinkan Indonesia menghasilkan produk bernilai tambah, bukan hanya menjual bahan mentah. Produk olahan tersebut juga dapat memasok kebutuhan industri.
Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan mengatakan investasi strategis perusahaan ditujukan untuk memperkuat industrialisasi mineral nasional. Langkah itu mencakup pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian serta pengembangan rantai industri yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
Salah satu fokusnya adalah pengembangan industri bauksit, alumina, dan aluminium di Kalimantan Barat. Integrasi produksi diharapkan memperkuat pasokan aluminium nasional dan meningkatkan pemanfaatan mineral dalam negeri.
MIND ID juga mendorong pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik berbasis nikel. Pengembangan kawasan industri di Maluku hingga Jawa Barat menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok industri kendaraan listrik nasional.
Di Gresik, Jawa Timur, perusahaan turut mengembangkan fasilitas pemurnian logam berharga. Proyek-proyek tersebut merupakan bagian dari strategi untuk menambah kapasitas pengolahan mineral dan memperkuat hubungan sektor pertambangan dengan industri manufaktur.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyebut realisasi investasi Indonesia selama satu dekade terakhir mencapai sekitar Rp 9.100 triliun. Investasi, menurutnya, menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk melalui pengembangan industri yang menambah nilai sumber daya alam.
Melalui berbagai proyek hilirisasi, MIND ID berupaya meningkatkan nilai ekonomi mineral dan memperkuat struktur industri nasional. Pengembangan industri dari hulu hingga hilir diharapkan mendukung kemandirian industri serta daya saing Indonesia dalam rantai pasok global.