bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah mempublikasikan gambar terbaru yang menampilkan bekas tabrakan bagian roket SpaceX dengan permukaan Bulan. Tabrakan ini terjadi pada awal Agustus.
Citra yang diperoleh dari satelit Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) milik NASA menunjukkan terbentuknya sebuah kawah baru dengan diameter sekitar 60 kaki atau 18 meter di lokasi kejadian.
Bagian roket yang menghantam Bulan adalah tingkat atas (upper stage) dari roket Falcon 9. Roket ini sebelumnya diluncurkan pada 15 Januari 2025 untuk membawa dua wahana pendarat Bulan komersial. Tingkat pertama roket Falcon 9 telah kembali ke Bumi, sementara tingkat atasnya melanjutkan perjalanan untuk mengantarkan kedua wahana robotik menuju orbit Bulan.
Setelah menyelesaikan misinya, SpaceX secara sengaja membuang tingkat atas roket tersebut ke luar angkasa. Namun, perubahan dalam dinamika orbit menyebabkan bagian roket itu bergerak ke arah Bulan dan akhirnya menghantam permukaannya pada 5 Agustus.
Beberapa peneliti dan badan antariksa berlomba untuk mendapatkan citra lokasi tumbukan. European Southern Observatory melalui Very Large Telescope di Chili menjadi salah satu yang pertama mendeteksi peristiwa ini. Tak lama setelah itu, Korea Pathfinder Lunar Orbiter atau Danuri juga turut membagikan citra.
NASA menyatakan kolaborasi dengan Korea AeroSpace Administration (KASA) dilakukan untuk memanfaatkan data awal dari Danuri. Data ini digunakan untuk mengarahkan kamera sudut sempit pada LRO ke lokasi tumbukan. Hasilnya, citra dengan kualitas yang lebih jernih dirilis oleh NASA pada Selasa (18/8).
Menurut keterangan NASA, untuk bisa menangkap citra tumbukan, para insinyur harus memiringkan wahana antariksa LRO agar kameranya mengarah ke kawah. Hal ini dilakukan setiap kali LRO melintas sekitar 60 mil di atas Bulan dengan kecepatan 1 mil per detik.
LRO mengorbit Bulan dari kutub ke kutub dalam siklus dua jam sembari Bulan berotasi di bawahnya. NASA menyebutkan bahwa dibutuhkan waktu enam hari agar lintasan orbit LRO dapat sejajar dengan lokasi tumbukan, menunjukkan tingkat presisi yang sangat tinggi dalam proses pengambilan gambar. Keterlambatan sekecil 10 detik saja dapat menyebabkan kawah baru tersebut bergeser hingga sekitar 10 mil dari bidang pandang kamera.
Meskipun tabrakan ini tidak direncanakan, para peneliti NASA menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi maupun permukaan Bulan. Ilmuwan Bulan NASA, Kelsey Young, menyatakan bahwa ini merupakan metode yang diterima secara teknis dan aman untuk membuang perangkat keras di orbit rendah Bulan. Ia menambahkan bahwa Bulan secara alami terus-menerus dihantam oleh berbagai benda angkasa.
Para ilmuwan justru memanfaatkan pengamatan terhadap tabrakan roket Falcon 9 ini sebagai kesempatan untuk mempelajari lebih lanjut karakteristik permukaan Bulan. Observasi ini juga diharapkan dapat membantu peneliti dalam mempersiapkan perlindungan bagi astronaut dan infrastruktur yang akan ditempatkan di Bulan di masa mendatang.