bytedaily
Minggu, 18 Oktober 2026 - 10:38 WIB

NASA Tampilkan Citra Satelit Anak Krakatau Saat Erupsi pada 5 September

Redaksi 11 September 2026 16 views
NASA Tampilkan Citra Satelit Anak Krakatau Saat Erupsi pada 5 September
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mempublikasikan gambar satelit yang memperlihatkan aktivitas Gunung Anak Krakatau saat terjadi erupsi eksplosif pada akhir pekan lalu.

Citra tersebut dihasilkan oleh beberapa satelit yang melintas di atas wilayah Anak Krakatau pada 5 September, ketika letusan berlangsung lebih dari 24 jam dan memuntahkan gas serta abu ke atmosfer.

Gambar yang diambil oleh instrumen Operational Land Imager (OLI) pada satelit Landsat 8 menampilkan kepulan putih gas vulkanik yang naik di atas awan abu berwarna cokelat.

Sementara itu, citra dari instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) pada satelit Suomi NPP memperlihatkan material vulkanik tersebar di area yang jauh lebih luas.

NASA mencatat bahwa satelit‑satelit yang berada di atas daerah tersebut pada tanggal 5 September berhasil merekam gambar‑gambar aktivitas letusan.

Menurut NASA, erupsi Anak Krakatau biasanya merupakan peristiwa rutin dengan mayoritas aktivitas bersifat ringan, namun pada awal September 2026 gunung tersebut menunjukkan aktivitas yang lebih kuat dan berbahaya.

Letusan yang berlangsung lebih dari satu hari mengirimkan gas dan abu ke ketinggian atmosfer, mengganggu ribuan penerbangan serta menurunkan kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jakarta.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dikutip NASA menyebut abu vulkanik mencapai ketinggian sekitar 6.000 meter di sebelah timur gunung dan 15.000 meter di sebelah barat pada 6 September.

Kehadiran abu di atmosfer menyebabkan penutupan sementara delapan bandara di Jawa dan Sumatra.

Berdasarkan laporan media yang dirujuk NASA, gangguan tersebut memengaruhi hampir 3.000 penerbangan yang masuk dan keluar kawasan terdampak.

NASA juga melaporkan bahwa hujan abu memengaruhi wilayah berpenduduk, khususnya di sebelah timur Anak Krakatau, dengan dampak yang dilaporkan terjadi di Jakarta dan beberapa daerah di Jawa Barat.

Mengutip Indonesian Humanitarian Coordination Platform (IHCP), abu vulkanik dapat menimbulkan risiko kesehatan serta mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. IHCP menekankan perbedaan karakteristik partikel, pola penyebaran, dan langkah perlindungan bila dibandingkan dengan asap kebakaran lahan gambut di wilayah lain Indonesia.

Pada 6 September, erupsi eksplosif berkelanjutan Anak Krakatau mulai mereda, meskipun aktivitas gunung tetap berlanjut.

NASA mencatat bahwa pola erupsi kembali menjadi tipe Strombolian, yang ditandai dengan lontaran abu dan material vulkanik secara berselang.

Bandara-bandara yang sempat terdampak mulai beroperasi kembali pada 8 September.

Hingga saat itu, Anak Krakatau tetap berada pada status peringatan kedua tertinggi dalam skala nasional, sebagaimana berlaku sejak awal Juli.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.