bytedaily
Jumat, 28 Agustus 2026 - 14:53 WIB

NASA Ungkap Peran Matahari dalam Perubahan Iklim Bumi di Masa Lalu

Redaksi 28 Agustus 2026 3 views
NASA Ungkap Peran Matahari dalam Perubahan Iklim Bumi di Masa Lalu
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah studi yang didanai oleh NASA mengindikasikan bahwa peristiwa-peristiwa di masa lalu yang terjadi pada Matahari kemungkinan besar berkontribusi terhadap perubahan iklim di Bumi.

Para ilmuwan telah lama mengamati bahwa Bumi mengalami perubahan iklim yang signifikan selama jutaan tahun, yang meliputi periode pemanasan dan pendinginan. Upaya untuk menjelaskan fenomena ini sebelumnya lebih fokus pada faktor-faktor internal Bumi seperti perubahan orbit, kadar gas rumah kaca, dan lapisan es.

Namun, penelitian terbaru dari program SHIELD (Solar Wind with Hydrogen Ion charge Exchange and Large-Scale Dynamics) di bawah naungan pusat sains DRIVE milik NASA, menyoroti adanya faktor eksternal. Studi ini menunjukkan bahwa perubahan pada lingkungan Matahari juga memiliki kaitan erat dengan fluktuasi suhu Bumi.

Penelitian tersebut mendalami pergerakan heliosfer, yang merupakan gelembung pelindung raksasa yang terbentuk dari angin dan partikel yang dipancarkan Matahari ke segala arah. Hasil studi yang dipublikasikan pada 21 Agustus di jurnal Annual Review of Astronomy and Astrophysics ini menyimpulkan bahwa lingkungan yang dilewati heliosfer dapat memicu perubahan iklim di Bumi.

Merav Opher, peneliti utama SHIELD, dan timnya menemukan bahwa Matahari pernah berinteraksi dengan hamparan gas dan debu antarbintang yang sangat dingin. Interaksi ini terjadi setidaknya tiga kali dalam beberapa juta tahun terakhir, yaitu sekitar 2-3 juta tahun lalu, 6-7 juta tahun lalu, dan 13-14 juta tahun lalu.

Tekanan dari gas dan debu dingin tersebut menyebabkan heliosfer menyusut, sehingga Bumi menjadi lebih rentan terpapar lingkungan antarbintang karena perlindungan heliosfer berkurang. Temuan dari simulasi ini sejalan dengan bukti geologis yang menunjukkan adanya unsur-unsur dari debu antarbintang dalam sampel inti sedimen laut dalam, salju Antartika, dan sampel Bulan pada periode waktu yang sama.

Ketika atmosfer Bumi terpapar awan hidrogen galaksi yang padat dan dingin, kandungan uap air meningkat dan dinamika atmosfer bagian atas berubah, yang pada akhirnya memengaruhi kondisi di permukaan Bumi. Penelitian mengenai heliosfer dan heliofisika ini berpotensi memberikan penjelasan mengenai perubahan iklim purba di Bumi, termasuk misteri evolusi, kemungkinan zaman es, dan membantu mengidentifikasi sistem bintang lain yang berpotensi layak huni.

Penelitian terpisah yang dilakukan oleh Vladimir Airapetian dari Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA, yang diterbitkan di Astrophysical Journal Letters, membahas paradoks mengapa Bumi bisa tetap hangat ketika Matahari purba jauh lebih redup dibandingkan saat ini. Sekitar tiga miliar tahun lalu, Matahari hanya memiliki 70 persen dari kecerahannya saat ini, yang seharusnya membuat Bumi membeku.

Paradoks ini dijelaskan melalui pengamatan bintang-bintang muda yang mirip Matahari, yang sering mengalami letusan superflare. Letusan ini melontarkan partikel berenergi tinggi ke segala arah. Airapetian berhipotesis bahwa lontaran partikel berenergi tinggi dari Matahari muda kita memicu reaksi kimia yang menghasilkan pemanasan di Bumi purba.

Para peneliti mensimulasikan atmosfer Bumi purba dengan mencampurkan berbagai gas, lalu menembakkan proton untuk meniru serangan partikel dari superflare. Paparan proton ini terbukti memicu produksi nitrogen oksida, sebuah gas rumah kaca yang jauh lebih kuat daripada karbon dioksida. Meskipun radiasi ultraviolet Matahari dapat menguraikan gas ini, keberadaan nitrogen oksida dalam jumlah tertentu saja sudah cukup untuk menghangatkan wilayah khatulistiwa Bumi hingga beberapa derajat di atas titik beku air.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.