bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah penelitian yang didanai oleh NASA mengindikasikan bahwa peristiwa di masa lalu yang melibatkan Matahari kemungkinan besar memengaruhi iklim di Bumi dan menjadi pemicu perubahan iklim.
Selama jutaan tahun, Bumi telah mengalami fluktuasi iklim yang signifikan, baik periode pemanasan maupun pendinginan. Para ilmuwan sebelumnya lebih fokus pada faktor internal Bumi seperti perubahan orbit, gas rumah kaca, dan tutupan es untuk menjelaskan fenomena ini.
Namun, penelitian terbaru dari program SHIELD (Solar Wind with Hydrogen Ion charge Exchange and Large-Scale Dynamics) yang merupakan bagian dari pusat sains DRIVE milik NASA, menyoroti adanya faktor eksternal dari Matahari yang berhubungan dengan perubahan suhu Bumi. Penelitian ini menelusuri pergerakan heliosfer, yaitu gelembung pelindung besar yang terbentuk dari angin dan partikel yang dipancarkan Matahari.
Menurut publikasi pada 21 Agustus di jurnal Annual Review of Astronomy and Astrophysics, lingkungan yang dilalui heliosfer dapat memicu perubahan di Bumi. Tim peneliti SHIELD, yang dipimpin oleh Merav Opher, menemukan bahwa Matahari setidaknya tiga kali dalam beberapa juta tahun terakhir berinteraksi dengan hamparan gas dan debu antarbintang yang sangat dingin.
Interaksi ini menyebabkan heliosfer tertekan dan menyusut, sehingga Bumi terekspos langsung ke lingkungan antarbintang. Peristiwa paparan ini diperkirakan terjadi sekitar 2-3 juta tahun lalu, 6-7 juta tahun lalu, dan 13-14 juta tahun lalu. Hasil simulasi penelitian ini menunjukkan kesesuaian dengan bukti geologis, di mana unsur-unsur dari debu antarbintang ditemukan dalam sampel inti sedimen laut dalam, salju Antartika, dan sampel Bulan dari periode waktu tersebut.
Ketika atmosfer Bumi terpapar awan hidrogen galaksi yang dingin dan padat, kandungan uap air di atmosfer meningkat dan dinamika atmosfer atas berubah, yang pada gilirannya memengaruhi kondisi di permukaan Bumi. Temuan mengenai heliosfer dan heliofisika ini berpotensi menjelaskan perubahan iklim purba di Bumi, termasuk misteri evolusi, kemungkinan terjadinya zaman es, dan membantu mengungkap sistem bintang lain yang berpotensi layak huni.
Penelitian terpisah oleh Vladimir Airapetian dari Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA, yang diterbitkan di Astrophysical Journal Letters, membahas paradoks bagaimana Bumi bisa tetap hangat miliaran tahun lalu ketika Matahari hanya memiliki 70 persen kecerahan dibandingkan saat ini. Kondisi tersebut seharusnya membuat Bumi membeku sepenuhnya.
Airapetian mengemukakan bahwa bintang-bintang muda yang mirip Matahari diketahui sering mengalami letusan superflare besar yang melontarkan partikel berenergi tinggi. Jika Matahari purba juga mengalami hal serupa, lontaran partikel berenergi tinggi tersebut dapat memicu reaksi kimia yang menghasilkan pemanasan di Bumi purba.
Para peneliti mensimulasikan atmosfer Bumi purba dengan mencampurkan gas seperti nitrogen molekuler, amonia, karbon dioksida, dan karbon monoksida, lalu menembakkan proton untuk meniru serangan partikel dari superflare. Paparan proton ini terbukti memicu produksi nitrogen oksida, sebuah gas rumah kaca yang jauh lebih kuat daripada karbon dioksida. Meskipun radiasi ultraviolet Matahari dapat menguraikan gas ini, konsentrasi 10 persen nitrogen oksida saja diperkirakan mampu menghangatkan wilayah khatulistiwa Bumi hingga 5 derajat Celsius di atas titik beku air.