bytedaily
Jumat, 03 Juli 2026 - 07:17 WIB

Neraca Perdagangan Indonesia Catat Defisit US$1,61 Miliar di Mei 2026 Setelah Surplus 70 Bulan

Redaksi 01 Juli 2026 6 views
Neraca Perdagangan Indonesia Catat Defisit US$1,61 Miliar di Mei 2026 Setelah Surplus 70 Bulan
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Situasi ini menandai berakhirnya periode surplus yang telah berlangsung selama 70 bulan berturut-turut.

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, defisit pada Mei 2026 terutama disebabkan oleh penurunan kinerja komoditas migas yang mencatat minus US$3,76 miliar, dengan kontributor utama defisit dari hasil minyak dan minyak mentah.

Defisit ini terjadi karena nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 yang tercatat sebesar US$23,20 miliar, lebih rendah dibandingkan nilai impor yang mencapai US$24,81 miliar.

Realisasi ekspor Indonesia pada Mei 2026 sebesar US$23,20 miliar mengalami penurunan 5,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Mei 2025) yang mencapai US$24,61 miliar secara tahunan (year on year/yoy).

Secara rinci, ekspor migas anjlok 31,56 persen (yoy) dari US$1,11 miliar menjadi US$760 juta. Sementara itu, ekspor nonmigas juga mengalami penurunan sebesar 4,50 persen (yoy) dari US$23,50 miliar menjadi US$22,45 miliar pada Mei 2026.

Seluruh sektor ekspor nonmigas menunjukkan tren penurunan. Sektor industri pengolahan tercatat sebesar US$19,05 miliar, turun 3,59 persen dibandingkan Mei 2025 yang sebesar US$19,76 miliar. Sektor pertambangan dan lainnya mencatat US$2,89 miliar, turun 7,03 persen dari US$3,11 miliar pada tahun sebelumnya. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga mengalami penurunan 20,43 persen dari US$630 juta pada Mei 2025 menjadi US$500 juta pada Mei 2026.

Di sisi lain, impor Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar US$24,81 miliar, mengalami kenaikan 22,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$20,31 miliar.

Rincian impor terdiri dari migas sebesar US$4,51 miliar, yang melonjak 70,78 persen (yoy), dan nonmigas sebesar US$20,30 miliar, naik 14,89 persen (yoy).

Berdasarkan sektornya, impor barang konsumsi naik 21,99 persen (yoy) menjadi US$2,23 miliar. Impor bahan baku/penolong meningkat 25,17 persen (yoy) menjadi US$17,58 miliar. Sementara itu, impor barang modal tercatat US$5 miliar, naik 12,70 persen dari US$4,44 miliar pada Mei 2025.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.