bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Wali Kota New York, Zohran Mamdani, telah mengumumkan kebijakan larangan penggunaan kecerdasan buatan (AI) generatif bagi siswa sekolah. Kebijakan ini diberlakukan dalam bentuk moratorium selama satu tahun dan ditujukan untuk siswa dari jenjang 2-K hingga kelas delapan, yang mencakup sekitar 600 ribu siswa atau dua pertiga dari total populasi siswa sekolah negeri di New York City.
Langkah ini dianggap sebagai salah satu pembatasan AI paling ketat yang diterapkan oleh distrik sekolah besar di Amerika Serikat. Mamdani menyatakan keraguannya terhadap klaim industri teknologi mengenai kebutuhan AI dalam pendidikan usia dini. Ia belum melihat bukti penelitian yang meyakinkan tentang manfaat AI bagi siswa sekolah dasar dan menengah, kecuali studi yang disponsori oleh perusahaan yang berpotensi diuntungkan.
Mamdani menekankan hak orang tua untuk memastikan anak-anak mereka menerima pendidikan berkualitas tanpa data pribadi dieksploitasi oleh perusahaan teknologi. Ia menegaskan bahwa data anak tidak boleh ditambang oleh Big Tech dan perkembangan anak tidak boleh dikorbankan demi keuntungan perusahaan.
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya penolakan terhadap teknologi di ruang kelas di Amerika Serikat, dengan beberapa orang tua mendorong pengurangan paparan teknologi bagi anak-anak. Meskipun beberapa negara bagian seperti Virginia, Idaho, dan Oklahoma telah meminta lembaga pendidikan mereka untuk menyusun panduan penggunaan AI, pendekatan New York City lebih drastis dengan menghentikan sementara penggunaan AI untuk siswa yang lebih muda.
Pemerintah kota akan menonaktifkan komponen AI pada lebih dari 38 program yang sebelumnya diizinkan jika tidak memenuhi standar keselamatan dan pengawasan baru, termasuk tutor membaca berbasis AI, Amira. Selain itu, pemerintah kota tidak akan menggunakan produk yang tidak memungkinkan fitur AI dimatikan. Pembatasan juga diberlakukan pada penggunaan perangkat individual di ruang kelas, dengan larangan total untuk siswa prasekolah hingga kelas dua, serta rekomendasi pembatasan waktu penggunaan untuk siswa kelas tiga hingga lima dan sekolah menengah pertama.
Presiden American Federation of Teachers, Randi Weingarten, menyambut baik kebijakan tersebut, menilai bahwa anak-anak yang lebih muda perlu belajar berpikir tanpa terlalu banyak layar dan tanpa menyerahkan proses kognitif kepada teknologi. Namun, pendekatan berbeda diterapkan untuk siswa sekolah menengah atas, yang dianggap tumbuh di dunia yang sudah dipenuhi AI. New York City akan menjalankan lima proyek percontohan AI untuk maksimal 50 ribu siswa SMA, dan seluruh siswa SMA akan mendapatkan kelas literasi AI dua kali setahun.