bytedaily - Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB) telah merilis informasi astronomis mengenai potensi pengamatan hilal untuk Lebaran yang jatuh pada hari Kamis mendatang. Peneliti Yatny Yulianty menjelaskan bahwa kondisi astronomis hilal kali ini cukup menantang untuk diamati.
Menurut Yatny, keberhasilan pengamatan hilal sangat bergantung pada berbagai faktor eksternal, termasuk kondisi atmosfer, kejernihan langit pada saat pengamatan, serta keahlian dan metode yang digunakan oleh para pengamat.
Hasil perhitungan dari Observatorium Bosscha menunjukkan bahwa pada Kamis, 29 Ramadan 1447 H, posisi bulan akan sangat berdekatan dengan matahari di langit barat saat matahari terbenam. Jarak sudut bulan terhadap matahari, baik dari pusat bumi (elongasi geosentrik) maupun dari permukaan bumi (elongasi toposentrik), berkisar antara 4,0 hingga 6,2 derajat di seluruh wilayah Indonesia.
Ketinggian bulan di atas ufuk saat matahari terbenam juga terbilang rendah, yaitu antara 0 hingga 3 derajat di sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat. Hal ini mengindikasikan bahwa bulan akan tampak sangat dekat dengan matahari dan berada pada posisi rendah di cakrawala.
Untuk mendokumentasikan visibilitas hilal, tim astronom dari Observatorium Bosscha akan melakukan pengamatan menggunakan teleskop dan peralatan pencitraan di dua lokasi strategis: Observatorium Bosscha di Lembang dan Observatorium Lhok Nga di Aceh. Pemilihan Observatorium Lhok Nga didasari pada posisi bulan di wilayah tersebut yang mendekati batas kriteria visibilitas hilal, menjadikannya lokasi krusial untuk verifikasi kondisi batas.
Observatorium Bosscha menegaskan bahwa kewenangan penetapan awal bulan Syawal tetap berada pada Pemerintah RI melalui Kementerian Agama dalam agenda sidang isbat. Hasil perhitungan dan pengamatan hilal yang disampaikan oleh Observatorium Bosscha berfungsi sebagai masukan ilmiah untuk pertimbangan dalam proses penetapan tersebut.