bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, munculnya material gelap di tepian Danau Sano Nggoang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dikenal sebagai fenomena Ta'i Sano, diduga masih terkait dengan gempa bumi yang baru-baru ini mengguncang wilayah tersebut. Sebelumnya, sebuah video yang beredar menunjukkan fenomena ini terjadi pasca gempa bumi bermagnitudo 7.7 yang melanda NTT.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menduga bahwa guncangan gempa yang kuat memicu proses likuifaksi atau terbentuknya gunung lumpur dan pasir di dasar danau. Proses ini menyebabkan sedimen anoksik yang sebelumnya terperangkap di dasar danau terdorong naik ke permukaan melalui retakan dan akhirnya terdampar di tepi danau. Sedimen ini umumnya berwarna hitam pekat dan mengeluarkan bau yang menyengat.
Daryono menjelaskan bahwa meskipun bukan gunung lumpur murni, interaksi antara air danau dengan sistem geotermal di bawahnya dapat melepaskan uap gas seperti CO2 dan H2S. Tekanan gas yang naik secara tiba-tiba ini dapat mengaduk endapan lumpur hitam dasar danau ke permukaan. Ia menambahkan bahwa Danau Wai Sano merupakan sistem kaldera geotermal, bukan gunung lumpur sedimen, namun fenomena adukan lumpur panas (mud pool/salse) tetap mungkin terjadi.
Gempa bermagnitudo 7.7 yang memicu fenomena ini terjadi pada Sabtu (15/8) pagi dan disebabkan oleh aktivitas Sesar Naik Flores. Hingga Selasa (18/8) pagi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 2.119 gempa susulan di wilayah Flores, NTT. BMKG memperkirakan gempa susulan ini akan terus terjadi selama tiga hingga empat pekan mendatang.