bytedaily
Rabu, 19 Agustus 2026 - 19:41 WIB

Menhut: El Nino 2026 Diprediksi Lebih Kuat Dibanding 2015

Redaksi 19 Agustus 2026 4 views
Menhut: El Nino 2026 Diprediksi Lebih Kuat Dibanding 2015
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyatakan bahwa fenomena El Nino yang terjadi saat ini diprediksi lebih kuat dibandingkan dengan kejadian serupa pada tahun 2015. Pernyataan ini disampaikan berdasarkan koordinasi rutin dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Menurut data BMKG yang dirilis, indeks Nino 3.4 saat ini mencapai +2,75, mengindikasikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang lebih hangat dari kondisi normal. Kondisi ini berpotensi mengurangi curah hujan di Indonesia. Intensitas El Nino yang sangat kuat ini diperkirakan akan semakin meningkat seiring dengan prediksi masuknya Indian Ocean Dipole (IOD) pada fase positif antara September hingga November 2026, yang berarti curah hujan akan semakin berkurang di berbagai wilayah.

Antoni menjelaskan bahwa El Nino menyebabkan cuaca menjadi lebih panas dan kering dalam periode yang lebih lama. Hal ini secara signifikan meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memperbesar risiko munculnya kabut asap. Berdasarkan citra satelit pada 16 Agustus 2026, asap terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan.

Untuk memitigasi perluasan karhutla di tengah fenomena El Nino yang semakin intens, pemerintah menekankan pentingnya penguatan koordinasi antarpihak. kewaspadaan seluruh elemen masyarakat dan korporasi sangat krusial untuk mencegah kebakaran, terutama dalam kondisi iklim yang diprediksi lebih kering dan panas. Antoni juga secara khusus mengingatkan masyarakat dan korporasi untuk tidak melakukan pembakaran lahan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap sumber api sekecil apapun, termasuk tidak membuang puntung rokok sembarangan.

Fenomena El Nino pada tahun 2015 juga tercatat membawa dampak signifikan, termasuk musim kemarau yang panjang dan kering. Data dari NASA menunjukkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia akibat perubahan pola cuaca ini, yang kemudian memperparah karhutla dan menghasilkan kabut asap tebal yang mengganggu kualitas udara serta aktivitas masyarakat dan transportasi.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.