bytedaily
Jumat, 16 Oktober 2026 - 01:32 WIB

Pakar ITS Nilai Diplomasi Energi Bahlil Perkuat Ketahanan Nasional

Redaksi 09 Oktober 2026 9 views
Pakar ITS Nilai Diplomasi Energi Bahlil Perkuat Ketahanan Nasional
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, pakar energi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar, mengapresiasi upaya Menteri ESDM sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia dalam memperkuat diplomasi energi dengan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Rusia. Menurut Ary, langkah tersebut penting untuk menjaga pasokan dan kestabilan harga energi di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Ary menilai diplomasi internasional itu perlu berjalan bersama upaya meningkatkan produksi minyak serta mengembangkan bahan bakar nabati melalui program B50 dan E50. Perpaduan kebijakan tersebut, katanya, dapat mengamankan pasokan dalam jangka pendek sekaligus mendorong kemandirian energi dalam jangka menengah dan panjang.

Ia berharap pemerintah segera mencari sumber minyak mentah dengan keekonomian terbaik dari berbagai negara agar kilang domestik, termasuk Cilacap, Balongan, dan Balikpapan, memperoleh bahan baku yang cukup. Ary juga menekankan perlunya mempercepat modernisasi kilang dan membenahi tata kelola hulu minyak dan gas bumi untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri.

Pengembangan biodiesel dan bioetanol, menurut Ary, dapat menjadi peluang untuk memanfaatkan sumber daya dalam negeri seperti kelapa sawit, tebu, dan singkong. Namun, pelaksanaannya perlu mempertimbangkan kesiapan industri, keberlanjutan lingkungan, serta keseimbangan antara kebutuhan energi dan pangan.

Ary turut menilai integrasi kebijakan sektor ESDM dengan hilirisasi sebagai langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan energi. Koordinasi yang terpadu dinilai dapat mendukung pengembangan pengolahan sumber daya alam, termasuk gas bumi dan batu bara, menjadi produk bernilai tambah serta mengurangi ketergantungan impor.

Sebelumnya, Bahlil menyampaikan pentingnya memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik. Konflik di berbagai wilayah dunia dinilai berdampak pada rantai pasok industri dan harga energi, termasuk bagi negara yang tidak terlibat langsung.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.