bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, pakar kebencanaan Daryono menyatakan bahwa peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau dipengaruhi oleh proses tektonik di zona megathrust Selat Sunda.
Menurutnya, magma yang membentuk gunung tersebut berasal dari proses subduksi Lempeng Indo‑Australia yang menukik di bawah Lempeng Eurasia. Ketika terjadi deformasi atau pelepasan energi gempa pada zona megathrust, getaran serta perubahan tekanan tektonik di dalam kerak bumi dapat memengaruhi sistem magma di kedalaman Anak Krakatau, seolah‑olah mengocok atau menekan kantong magma yang berisi gas.
Daryono menambahkan bahwa perenggangan tektonik di Selat Sunda dapat menciptakan celah atau retakan pada struktur batuan, mempermudah magma naik ke permukaan dan mempercepat terjadinya erupsi.
Ia menegaskan tidak ada satu nilai magnitudo tertentu yang menjadi patokan mutlak untuk memicu magma Anak Krakatau. Pengaruh gempa tergantung pada jarak pusat gempa, kedalaman, dan kondisi kantong magma. Secara umum, gempa tektonik dangkal berukuran sedang (M5,0‑6,0) yang berjarak beberapa puluh kilometer, atau gempa megathrust berskala besar (M7,0) yang berjarak ratusan kilometer, dapat memberikan guncangan dinamis serta perubahan regangan yang signifikan.
Pakar menilai kemampuan gempa untuk meningkatkan aktivitas gunung tergantung pada keadaan magma sebelum gempa terjadi. Jika magma sudah jenuh gas dan siap meletus, guncangan gempa berukuran sedang pun dapat mengganggu dapur magma. Sebaliknya, jika magma dalam keadaan pasif atau belum mengumpulkan cukup volume, bahkan gempa besar sekalipun tidak serta‑merta memicu peningkatan aktivitas vulkanik.
Daryono juga menjelaskan bahwa erupsi besar dengan volume magma tinggi dapat mengubah keseimbangan tegangan batuan lokal, sehingga memicu pergeseran sesar di sekitar Selat Sunda (fenomena volcano‑induced tectonics) yang pada gilirannya dapat menimbulkan gempa tektonik berukuran kecil hingga sedang.
Ia menegaskan bahwa aktivitas vulkanik tidak cukup kuat untuk secara langsung menghasilkan gempa megathrust berskala raksasa.
Menurut Daryono, indikator awal yang dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meliputi lonjakan gempa vulkanik dalam (VA) dan vulkanik dangkal (VB), serta deteksi retakan batuan akibat dorongan magma. Pemantauan deformasi tubuh gunung menggunakan GPS berpresisi tinggi atau tiltmeter juga dapat mengungkap perubahan pada struktur gunung.