bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, pakar kebencanaan menolak tuduhan bahwa erupsi gunung api di Indonesia belakangan ini merupakan hasil rekayasa teknologi atau senjata buatan manusia.
Pegiat mitigasi bencana, Daryono, menjelaskan bahwa letusan gunung berapi adalah proses alami yang dipicu oleh dinamika internal Bumi dengan energi yang sangat besar, sehingga tidak mungkin dibangkitkan atau dikendalikan oleh teknologi manusia.
Menurut Daryono, energi yang menggerakkan aktivitas vulkanik berasal dari pergerakan mantel bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan. Magma naik karena densitasnya lebih rendah dibandingkan batuan di sekitarnya, sekaligus mengalami tekanan dari gas‑gas seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.
Tekanan dalam kantong magma dapat mencapai ratusan megapascal, namun tidak ada teknologi berbasis gelombang elektromagnetik atau ledakan buatan yang mampu menembus jauh ke dalam kerak bumi dan mengubah tekanan tersebut secara sengaja.
"Manusia tidak memiliki sumber energi yang cukup besar untuk menggerakkan jutaan meter kubik magma dengan suhu hingga 1.200 °C," ujar Daryono.
Ia menambahkan bahwa intensitas aktivitas vulkanik di Indonesia terkait dengan posisi geografis negara ini di Cincin Api, dimana lempeng tektonik Indo‑Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina bertemu. Penunjaman lempeng samudra ke bawah lempeng lain membawa material, termasuk air dan sedimen, ke kedalaman bumi, yang pada gilirannya memicu pelelehan batuan mantel dan menghasilkan suplai magma dalam jangka waktu lama.
Beberapa gunung berapi dapat menunjukkan peningkatan aktivitas secara bersamaan ketika sistem magmanya berada dalam kondisi kritis, misalnya akibat aktivitas tektonik regional atau penyesuaian tegangan setelah gempa besar. Namun, fenomena tersebut tetap merupakan proses tektonik alami, bukan hasil intervensi teknologi manusia.
Daryono juga menjelaskan bahwa pergerakan magma dapat dipantau melalui parameter geofisika sebelum terjadinya letusan. Pergerakan tersebut dapat menimbulkan gempa vulkanik dalam, gempa dangkal, atau tremor akibat rekahan batuan. Instrumen geodesi seperti GPS dan tiltmeter mencatat deformasi pada gunung berapi, sementara pemantauan gas dan suhu memberikan indikasi tambahan.
Proses akumulasi massa dan energi dalam sistem vulkanik dapat berlangsung berbulan‑bulan hingga bertahun‑tahun, dan lapisan batuan padat di kerak bumi mampu meredam gelombang elektromagnetik, sehingga sinyal buatan manusia tidak memiliki mekanisme fisik untuk memengaruhi sistem tersebut.