bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 01:10 WIB

Pakar Kebencanaan Tegaskan Erupsi Gunung Api Tidak Dapat Direkayasa Manusia

Redaksi 08 September 2026 7 views
Pakar Kebencanaan Tegaskan Erupsi Gunung Api Tidak Dapat Direkayasa Manusia
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, pakar kebencanaan menolak klaim bahwa erupsi gunung berapi di Indonesia belakangan ini merupakan hasil rekayasa teknologi atau senjata buatan manusia.

Daryono, yang terlibat dalam upaya mitigasi bencana, menjelaskan bahwa letusan gunung berapi adalah proses alami yang dipicu oleh dinamika internal Bumi, dengan energi yang jauh melampaui kemampuan teknologi manusia untuk dibangkitkan atau dikendalikan.

Menurutnya, energi yang menggerakkan aktivitas vulkanik berasal dari pergerakan mantel Bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan, dimana magma naik karena densitasnya yang lebih rendah dibandingkan batuan di sekitarnya serta tekanan gas seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.

Daryono menambahkan bahwa tekanan dalam kantong magma dapat mencapai ratusan megapascal, sehingga tidak ada teknologi berbasis gelombang elektromagnetik atau ledakan buatan manusia yang mampu menembus jauh ke dalam kerak Bumi dan mengubah tekanan tersebut secara sengaja.

Ia menegaskan bahwa manusia tidak memiliki sumber energi yang cukup untuk menggerakkan jutaan meter kubik magma dengan suhu hingga 1.200 °C.

Aktivitas vulkanik yang intens di Indonesia, kata Daryono, berkaitan dengan posisi geografis negara ini di Cincin Api, tempat pertemuan lempeng tektonik Indo‑Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Penunjaman lempeng samudra ke bawah lempeng lain membawa material, termasuk air dan sedimen, ke kedalaman Bumi, yang memicu pelelehan batuan mantel dan menghasilkan suplai magma dalam jangka waktu panjang.

Beberapa gunung berapi dapat menunjukkan peningkatan aktivitas secara bersamaan ketika sistem magma masing‑masing berada dalam kondisi kritis, misalnya setelah aktivitas tektonik regional atau penyesuaian tegangan di kerak Bumi pasca gempa besar. Namun, proses tersebut tetap bersifat tektonik alami, bukan akibat intervensi teknologi manusia.

Daryono juga menjelaskan bahwa pergerakan magma dapat dipantau melalui parameter geofisika sebelum terjadinya letusan. Gerakan magma memicu gempa vulkanik dalam, gempa dangkal, serta tremor akibat rekahan batuan. Instrumen geodesi seperti GPS dan tiltmeter mencatat deformasi gunung berapi, sementara pemantauan gas dan suhu mengindikasikan akumulasi massa dan energi yang dapat berlangsung berbulan‑bulan hingga bertahun‑tahun.

Ia menegaskan bahwa erupsi tidak terjadi secara tiba‑tiba melalui “tombol kontrol”, melainkan didahului oleh rangkaian sinyal seismik dan perubahan geofisika yang dapat dideteksi oleh teknologi pemantauan modern.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.